Dokumentasi: Tiara/LPM Locus
Surakarta – Aliansi Mahasiswa Solo Raya menggelar aksi damai di kawasan Gladak, Kota Solo, pada Sabtu (30/8) pukul 15.00 WIB. Peristiwa ini merupakan simbolik atas kejadian yang menimpa saudara Affan Kurniawan sekaligus seruan kepada pemerintah agar lebih memihak kepada rakyat.
Berbeda dengan aksi demonstrasi yang terjadi kemarin, aksi ini ditegaskan sebagai aksi damai yang dilatarbelakangi oleh meninggalnya seorang driver ojek online yang terlindas mobil rantis Brimob. Pada aksi kali ini, massa lebih banyak melakukan doa bersama sebagai bentuk penghormatan terakhir untuk almarhum Affan Kurniawan.
“Di sini kita bukan demo, ya, Mbak. Di sini kita melakukan aksi damai. Kita berdoa untuk teman-teman, saudara setanah air kita, yang saat di Jakarta wafat ketika mengantarkan pesanan. Yaitu saudara Affan. Kita mendoakan beliau, dan kita menuntut sebagaimana hukum yang berlaku di Indonesia atas tragedi tersebut,” ujar Ilham, mahasiswa UIN.
Suasana aksi kali ini berjalan kondusif tanpa adanya kericuhan. Aksi damai ini diawali dengan doa bersama yang dilakukan para peserta, lalu dilanjutkan dengan salat gaib untuk almarhum Affan Kurniawan. Setelah itu, massa menggelar tabur bunga serta pembacaan puisi berisikan pesan kemanusiaan dan kritik sosial, yang diiringi aksi menyalakan lilin bersama sebagai simbol penerangan di tengah gelapnya keadaan negara saat ini.
Selain itu, aksi kali ini juga dimaksudkan sebagai bentuk pengendalian emosi masyarakat Solo sekaligus peredam amarah warga.
“Ini bukan menindaklanjuti, ini beda dengan demo kemarin. Tapi di sini kami seperti meredakan emosi, amarah-amarah dari warga Solo,” ujar Dita, mahasiswa Universitas Sebelas Maret.
Di sisi lain, tidak hanya soal solidaritas, aksi ini juga menyuarakan keresahan publik terkait kebijakan pemerintah dan wakil rakyat. Salah satu isu mengenai seruan kenaikan gaji DPR menjadi sorotan karena dinilai menunjukkan adanya jurang yang semakin lebar antara rakyat kecil dan elite politik.
“Sikap saya, menolak penuh kenaikan gaji DPR, karena banyak masyarakat miskin yang menderita,” tegas Agil, salah satu partisipan aksi.
Agil juga menegaskan bahwa aksi ini bukan akhir dari perjuangan rakyat. Jika aspirasi mereka tidak didengarkan serta tidak ditindaklanjuti, maka akan ada aksi lanjutan dengan skala yang lebih besar. “Mungkin ada gerakan yang lebih besar daripada ini.”
Harapan besar pun dituturkan Agil untuk mahasiswa dan anak muda lainnya, bahwa beberapa aksi yang terjadi merupakan wujud nyata perjuangan rakyat Indonesia.
“Untuk teman-teman, saya harap gerakan seperti ini bukan hanya sebagai simbolis, tetapi perjuangan rakyat Indonesia. Bagaimana ke depannya kita sebagai anak muda harus tahu sikap terhadap rakyat, yang nantinya kita menuju Indonesia Emas setelah 100 tahun merdeka,” ucap Agil.
Aksi damai yang digelar sore ini menegaskan bahwa mahasiswa masih menjadi jembatan penyambung aspirasi rakyat melalui doa, simbolis, dan kritik yang disuarakan. Mereka berharap pemerintah berpihak kepada masyarakat kecil serta memberikan keadilan bagi korban dan keluarga yang ditinggalkan.
Penulis: Arin, Meisya, dan Tiara
Reporter: Arin, Tiara, Kurniawan, dan Candra
Editor: Tiara