
Gambar : https://min.wikipedia.org/wiki/Adinegoro
Novel darah muda merupakan salah satu bagian yang dianggap penting dalam sastra Indonesia, meskipun tidak setenar Sitti Nurbaya karya Marah Rusli atau Salah Asuhan karya Abdoel moeis. Pada masanya novel ini memang cukup terkenal karena mengangkat tema modernisasi dan pernikahan etnis yang pada saat itu masih menjadi isu sensitif di masyarakat. Novel ini diterbitkan oleh Balai Pustaka dan menjadi novel pertama yang ditulis oleh Djamaludin Adinegoro.
LATAR BELAKANG DAN PENDIDIKAN
Djamaludin Adinegoro lahir pada 14 Agustus 1904 di Talawi, Sawahlunto, Sumatra Barat. Ia adalah adik dari Muhammad Yamin, seorang sastrawan dan tokoh pergerakan. Nama “Adinegoro” merupakan nama pena yang digunakannya dalam dunia jurnalistik dan sastra, sedangkan nama asli ia sendiri adalah Djamaludin gelar Datuk Maradjo Sutan. Awalnya Adinegoro merupakan seorang siswa kedokteran di Stovia, Batavia. Namun dikarenakan minatnya pada dunia jurnalistik dan sastra membuatnya meninggalkan sekolah tersebut. Setelah meninggalkan Stovia, Adinegoro melanjutkan pendidikannya di benua Eropa khususnya di Jerman dan Belanda antara tahun 1926 hingga 1930, disana ia memperdalam ilmu jurnalistik serta mempelajari tentang geografi dan kartografi.
KARIER dan KARYA
Selama belajar di Eropa, Adinegoro bekerja sebagai asisten sukarela di beberapa surat kabar dan melakukan perjalanan ke berbagai negara seperti Turki, Yunani, Italia, Mesir, dan India. Pengalaman yang ia dapatkan memberikan wawasan luas yang kemudian dituangkan dalam tulisan-tulisannya. Setelah kembali ke Indonesia pada tahun 1931, ia menjadi pemimpin di majalah Pandji pustaka dan surat kabar Pewarta Deli di Medan. Di bawah kepemimpinannya Pewarta Deli mengalami banyak perubahan, baik dalam tata letak maupun artikel yang menjadikannya salah satu surat kabar terkemuka pada saat itu.
Adinegoro dikenal sebagai pelopor jurnalisme modern Indonesia. Ia memperkenalkan teknik liputan investigatif dan penggunaan peta dalam laporan perangnya, sehingga dapat memudahkan pembaca dalam memahami situasi konflik. Disamping itu ia juga aktif dalam menulis novel seperti “Darah Muda” (1931) dan “Asmara Jaya” (1932), serta karya non-fiksi seperti “ Melawat ke Barat” (1950) yang menceritakan perjalanannya ke Eropa.
Untuk menghormati kontribusinya dalam dunia jurnalistik, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) menyelenggarakan Anugerah Jurnalistik Adinegoro sejak tahun 1974. Penghargaan ini diberikan kepada karya jurnalistik terbaik di Indonesia dan dianggap sebagai penghargaan tertinggi dalam bidang jurnalistik di tanah air.
KEHIDUPAN PRIBADI
Adinegoro menikah dengan Alidar binti Djamal, seorang wanita asal Sulit Air, Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai lima orang anak dengan anak kedua bernama Anita Marni. Ia mengenang bahwa sang ayah sering mengajak keluarga berkunjung ke kampung halamannya di Talawi untuk berlibur dan bersilaturahmi dengan keluarga besar disana.
Anak ketiga mereka, Adiwarsita, lahir pada 19 Maret 1946 di Bukittinggi. Pada saat kelahirannya, Adinegoro sedang menjabat sebagai Komisaris Pemerintah Pusat untuk Sumatera dan berkedudukan di Bukittinggi. Adiwarsita kemudian diberi gelar Datuk, sebagai bentuk penghormatan dan kedudukannya dalam masyarakat Minangkabau.
MENINGGALNYA
Adinegoro meninggal pada 8 Januari 1967 dan dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta. Tidak banyak informasi spesifik mengenai penyebab meninggalnya Adinegoro, namun diketahui bahwa kesehatannya sempat menurun beberapa kali sebelum wafat yang mengharuskannya dirawat di Rumah Sakit Carolus, Jakarta. Meninggalnya Adinegoro menjadi duka mendalam bagi dunia jurnalistik Indonesia, mengingat kontribusinya yang signifikan dalam pengembangan pers nasional.
Penulis : Alfi Syahrin M.

