Terdampak Aksi, Solo Night Market Tutup Lebih Awal

  • By locus
  • Agustus 30, 2025
  • 0
  • 85 Views

Arsip pribadi LPM LOCUS

 

Surakarta – Peristiwa ricuh yang terjadi menyebabkan kerusakan fasilitas, luka-luka, hingga membuat para pedagang kocar-kacir di kawasan Solo Night Market Ngarsopuro pada pukul 19.00, Jum’at (29/08). Hal ini menyebabkan situasi semakin memanas dan gas air mata yang merembet hingga sekitar lokasi, sehingga para pedagang terpaksa menutup lapak lebih awal demi keselamatan.

Informasi terkait aksi di Gladak masih simpang siur dan membuat pedagang UMKM Ngarsopuro tetap membuka lapak pada malam ini. Kericuhan yang terjadi diluar prediksi para pedagang, sebab mereka hanya mendengar kabar aksi dilakukan di Manahan.

Ketua Paguyuban UMKM Ngarsopuro, Pak Kurnia, mengatakan sejak awal pihaknya hanya menerima kabar lewat grup WhatsApp. Dari koordinasi resmi, tidak ada informasi mengenai kericuhan yang berlangsung di Ngarsopuro. 

Informasi validnya aksi di Manahan, lalu dialihkan ke Gladak dan Balai Kota. Karena simpang siur, kami tetap buka. Namun sekitar pukul 8 malam, massa meluas dan Ngarsopuro ikut terdampak gas air mata,” ujar Kurnia.

Ia juga menambahkan banyak pedagang yang meninggalkan lapaknya untuk menghindari terkena lebih banyak gas air mata yang dilemparkan aparat. Namun beberapa pedagang tetap terkena dampaknya “Alhamdulillah mayoritas pedagang sudah kukut lebih dulu, hanya beberapa yang terlambat,” tegasnya.

Meski terkena imbas gas air mata, Kurnia memastikan tidak ada korban serius dari kalangan pedagang.

Hanya perih di mata dan sesak napas, tapi tidak ada yang sampai harus dibawa ke rumah sakit,” tambahnya.

Ia berharap kedepannya informasi mengenai aksi bisa lebih jelas agar tidak menimbulkan kerugian di kalangan pedagang.

Disisi lain, Mukhlis, pedagang es yang sejak sore sudah berada di lokasi, memilih tetap berjualan di tengah kericuhan. Ia mengaku ini pengalaman pertamanya ikut terlibat dalam peristiwa kerusuhan. Ia terkena gas air mata hingga perih, meski tidak melihat langsung bentuk kekerasan aparat.

Saya sengaja ikut aksi, pertama kali ikut demo ini. Sambil jualan, tapi akhirnya kena gas air mata. Perih sekali, jadi saya pindah,” ucapnya.

Mukhlis berharap pemerintah dan aparat bisa lebih dekat dengan masyarakat.

 “Harapannya gotong royong. Pejabat jangan main sembunyi-sembunyi. Kalau masyarakat butuh bantuan, ayo turun bareng-bareng, jangan di atas saja,” tegasnya.

Sementara itu, pengunjung yang tidak tahu adanya aksi tersebut terkena dampak dari kericuhan yang terjadi. Hingga banyak yang memutuskan untuk pulang dan tidak sedikit dari mereka yang ikut melihat kondisi pada malam ini.

 “Awalnya saya dateng kesini tuh ga ada apa-apa, waktu mau pulang saya bingung semua jalan dialihkan,” ujar salah satu pengunjung.

Peristiwa ini seperti menyisakan satu pertanyaan, siapa yang bertanggung jawab atas simpang siur informasi? Dan sampai kapan ketidakjelasan informasi berlanjut dan akan merugikan masyarakat kecil seperti para pedagang UMKM di Ngarsopuro?

Penulis: Arin, Nayla, Meisya

Reporter: Alfi, Arin, Meisya, Syifa, Muti

Editor: Chandra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.