Monumen untuk Sebuah Kebohongan

  • By locus
  • Januari 1, 2026
  • 0
  • 7 Views

Gambar diambil dari pinterest

 

Judul Buku : Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto

Penulis : John Roosa

Penerjemah: Hersri Setiawan

Penerbit : Institut Sejarah Sosial Indonesia dan Hasta Mitra

ISBN : 978-979-17579-0-4

Isi : xxiv + 392 halaman 16 cm x 23 cm

Cetakan : Pertama, Januari 2008

Buku Dalih Pembunuhan Massal bukan sekadar upaya memahami Gerakan 30 September 1965 (G30S). Ia adalah autopsi terhadap sebuah rezim pengetahuan—cara negara memproduksi kebenaran, memeliharanya, lalu menggunakannya sebagai lisensi untuk membunuh. John Roosa menulis sejarah bukan sebagai penutur kisah masa lalu, melainkan sebagai pembongkar mesin: ia membuka baut-baut narasi resmi, memperlihatkan oli propaganda yang lengket, dan menunjukkan bahwa apa yang selama ini kita sebut “sejarah” lebih sering bekerja sebagai perpanjangan tangan kekuasaan.

Sejak awal, Roosa mengajukan tesis yang sunyi namun mematikan: pembantaian massal 1965–1966 bukan konsekuensi tak terhindarkan dari G30S, melainkan hasil politik penafsiran. G30S dijadikan dalih—kata kunci yang dipilih Roosa dengan sangat sadar. Dalih bukan sebab. Dalih adalah pembenaran yang datang belakangan, setelah keputusan untuk membunuh sudah diambil.

Seandainya pembantaian massal bisa berbicara, ia mungkin tidak akan menuntut belas kasihan, melainkan kejujuran. Selama puluhan tahun, negara memberi kita satu cerita tentang 1965: rapi, hitam-putih, dan penuh kepastian. Sementara ratusan ribu mayat dikubur tanpa nama dan tanpa hak untuk dibela. Dalih Pembunuhan Massal karya John Roosa memulai ulasannya dari satu pertanyaan yang berbahaya bagi kekuasaan: bagaimana jika yang kita sebut “sejarah nasional” bukan kesalahan ingatan, melainkan rekayasa yang disengaja? Buku ini tidak datang untuk mendamaikan, melainkan untuk merusak ketenangan palsu—membuka kembali luka yang ditutup dengan monumen, film propaganda, dan kurikulum sekolah, lalu memaksa kita menatapnya tanpa dalih.

Roosa memulai analisisnya dengan satu langkah yang tampak sederhana namun politis: menolak menerima narasi resmi sebagai titik berangkat. Ia tidak bertanya “siapa dalang G30S?”, melainkan “bagaimana sebuah peristiwa yang kacau bisa diubah menjadi kebenaran tunggal yang begitu mapan?”. Dari sini, fokus buku bergeser—bukan semata pada peristiwa 30 September 1965, melainkan pada kerja penafsiran yang menyusulnya. G30S, dalam pembacaan Roosa, adalah peristiwa yang maknanya belum jadi saat terjadi; makna itu diproduksi kemudian, di bawah bayonet, di ruang sidang militer, dan di meja redaksi yang telah ditundukkan.

Dalam membedah kronologi awal G30S, Roosa menunjukkan bahwa gerakan tersebut jauh dari karakter kudeta klasik. Tidak ada penguasaan pusat komunikasi secara menyeluruh, tidak ada konsolidasi elite sipil, tidak ada deklarasi ideologis yang matang. Bahkan penculikan para jenderal sendiri berlangsung dengan cara yang serampangan dan penuh improvisasi. Dari sini, Roosa menarik kesimpulan penting: ketidakmatangan ini bukan sekadar kesalahan teknis, melainkan indikator absennya desain politik yang utuh. Dengan kata lain, G-30-S tidak membawa cetak biru kekuasaan. Ia adalah tindakan terbatas yang kemudian dibaca seolah-olah ia adalah ancaman eksistensial negara.

Analisis Roosa lalu bergerak ke figur-figur kunci: Supardjo, Sjam, Aidit—bukan untuk mengultuskan atau menistakan mereka, melainkan untuk menunjukkan retakan internal di dalam apa yang selama ini dianggap sebagai “konspirasi rapi”. Dokumen Supardjo, yang dibedah secara filologis, justru memperlihatkan kritik internal terhadap G30S: operasi ini dinilai gagal sejak awal, miskin koordinasi, dan tidak dipahami sepenuhnya oleh para pelakunya sendiri. Kesaksian ini menghancurkan narasi bahwa G30S adalah rencana besar PKI yang terpusat dan disiplin.

Ketika membahas Sjam dan Biro Chusus, Roosa memperlihatkan ironi politik bawah tanah: semakin rahasia sebuah jaringan, semakin besar ilusi kendali yang ia miliki. Biro Chusus digambarkan bukan sebagai otak maha-kuasa, melainkan sebagai ruang gema—penuh asumsi, minim verifikasi, dan terputus dari realitas militer yang keras. Di titik ini, Roosa secara halus menyampaikan kritik struktural terhadap politik konspiratif itu sendiri: rahasia tidak otomatis berarti kuat; sering kali ia justru rapuh.

Aidit, pemimpin PKI, ditempatkan Roosa dalam wilayah yang tidak nyaman bagi dua kubu sekaligus. Ia tidak dibebaskan dari tanggung jawab politik, tetapi juga tidak diubah menjadi dalang tunggal. Aidit digambarkan sebagai aktor yang bermain di medan yang salah, mempercayai sekutu yang keliru, dan mengira bahwa manuver terbatas bisa dikendalikan. Kesalahan Aidit adalah kesalahan kalkulasi—bukan lisensi bagi genosida. Di sinilah Roosa membuat pemisahan tegas antara kesalahan politik dan hukuman biologis, sebuah pemisahan yang ditolak total oleh logika pembantaian 1965.

Puncak analisis Roosa terletak pada cara ia membaca peran Suharto. Tidak ada tuduhan sensasional, tidak ada teori konspirasi besar. Justru sebaliknya: Suharto tampil sebagai figur yang memahami satu hal krusial—bahwa menguasai tafsir lebih penting daripada menguasai peristiwa. Dengan bergerak cepat, mengklaim legitimasi pemulihan keamanan, dan membingkai G30S sebagai ancaman absolut, Suharto mengubah kekacauan menjadi modal politik. Dalam tangan Suharto, keadaan darurat tidak diselesaikan, melainkan diperpanjang, dinormalkan, dan diwariskan.

Analisis ini diperluas Roosa ke level internasional. Amerika Serikat dan logika Perang Dingin hadir bukan sebagai dalang langsung, melainkan sebagai penyedia iklim moral. Dalam iklim itu, pembantaian massal dapat diterima sebagai stabilisasi, dan kematian ratusan ribu orang dibaca sebagai statistik yang “menguntungkan”. Roosa tidak menulis dengan nada marah; ia menulis dengan presisi yang justru memperlihatkan kekejaman banal dari geopolitik modern.

Akhirnya, Roosa mengikat seluruh analisisnya pada satu kesimpulan yang mengguncang: yang paling berbahaya dari 1965 bukan hanya pembunuhannya, tetapi keberhasilan negara mengubahnya menjadi cerita yang masuk akal. Melalui monumen, film, museum, dan kurikulum sekolah, negara tidak sekadar mengingat—ia mengarahkan ingatan. Sejarah dipatungkan, dikunci, dan dijauhkan dari pertanyaan.

Dengan demikian, Dalih Pembunuhan Massal bukan hanya analisis tentang masa lalu, melainkan peringatan tentang masa kini: bahwa kekerasan politik selalu membutuhkan cerita, dan tugas intelektual yang paling radikal adalah merusak cerita itu ketika ia menuntut darah sebagai harga stabilitas.

Marginalia

Secara akademik, buku ini nyaris tak bercela. Ketelitiannya luar biasa. Namun justru di situlah sebagian pembaca mungkin merasa frustrasi. Roosa menolak memberi kepuasan berupa jawaban final. Buku ini menutup pintu pada mitos, tetapi tidak membuka altar kebenaran baru.

Bagi pembaca yang menginginkan kejelasan moral instan, buku ini terasa dingin. Tapi bagi mereka yang menganggap sejarah sebagai medan pertarungan etis, inilah kekuatannya.

Membaca buku ini rasanya seperti duduk di ruang sidang yang terlalu lama ditutup. Tidak ada teriakan, tidak ada drama. Hanya fakta-fakta yang perlahan membuat kita sadar: mungkin selama ini kita hidup berdampingan dengan kebohongan yang dilembagakan.

Yang paling mengganggu dari buku ini bukan isi kekerasannya, melainkan kesadarannya. Bahwa pembantaian sebesar itu bisa dibenarkan oleh satu kata: dalih, dan yang lebih mengganggu lagi—kata itu masih bekerja sampai sekarang, dalam bentuk yang berbeda, dengan musuh yang berganti nama.

Buku ini membuat saya percaya bahwa problem terbesar Indonesia bukan kurangnya data sejarah, melainkan keengganan moral untuk menatapnya tanpa seragam.

Roosa tidak menulis untuk menghibur. Ia menulis untuk mengganggu, dan dalam konteks sejarah Indonesia, itu adalah kontribusi yang paling jujur.

Saya percaya pada ketelitian Roosa, tetapi saya tidak sepenuhnya percaya pada keheningannya. Kehati-hatiannya yang ekstrem—penolakannya untuk melangkah satu inci pun ke wilayah spekulasi—membuat analisisnya nyaris steril dari keberanian menamai. Ia berhasil meruntuhkan dalih negara, namun berhenti tepat sebelum menunjuk siapa yang secara sadar memanfaatkan kekacauan itu sebagai lisensi pembunuhan. Akibatnya, kekerasan tampak terlalu rapi sebagai “struktur”, terlalu impersonal sebagai “sejarah”, dan terlalu aman dari tuntutan pertanggungjawaban. Saya menghargai kejujurannya, tetapi saya juga curiga: jangan-jangan sikap berhenti ini, betapapun bermoral, secara tidak sengaja memberi ruang bagi kebohongan lama untuk terus bernafas. Skeptisisme saya bukan pada data Roosa, melainkan pada keputusannya untuk membiarkan sejarah tetap menggantung—seolah kebenaran hanya boleh didekati, tapi tak pernah boleh disebut dengan lantang.

Roosa sangat teliti, mungkin terlalu teliti. Ia membongkar kebohongan negara dengan presisi bedah, tapi selalu menghentikan pisaunya tepat sebelum menyentuh urat tanggung jawab. Saya mengagumi kehati-hatiannya, namun juga mencurigainya. Dengan menolak spekulasi, ia memang menjaga integritas ilmiah, tetapi sekaligus membiarkan kekerasan tampil sebagai sesuatu yang impersonal, sebagai “struktur”, bukan keputusan sadar. Di titik ini, sejarah terasa aman bagi para pelakunya. Dalih runtuh, tetapi siapa yang memetik manfaat dari runtuhan itu tetap samar. Saya setuju bahwa kebenaran tak boleh direkayasa, namun saya bertanya: apakah keengganan untuk menamai bukan juga sebuah pilihan politik?

 

Penulis: Hermawan

Editor: Abril

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

tangkubanperahu.com
sibolangit.com
siguragura.com
simanindo.com
padarincang.com
kolektor.id
pelukis.id
pancoran.id
jasmani.id
cipanas.id
eksklusif.id
inovatif.id
xenia.id
wamena.id
parapat.id
penatapan.id
balige.id
topthreenews.com
aaatrucksandautowreckings.com
arbirate.com
playoutworlder.com
temeculabluegrass.com
eldesigners.com
cheklani.com
totodal.com
apkcrave.com
bestcarinsurancewsa.com
complidia.com
eveningupdates.com
mcochacks.com
mostcreativeresumes.com
oxcarttavern.com
riceandshinebrunch.com
shoesknowledge.com
aktualinformasi.id
faktadunia.id
gapurainformasi.id
gariscakrawala.id
helvetianews.id
langitcakrawala.id
langitinformasi.id
pintucakrawala.id
wawasancakrawala.id
aktualberita.id
cakrawalafakta.id
pintuinformasi.id
wawasaninformasi.id
horizonberita.id
portalcakrawala.id
spektruminformasi.id
aktualwawasan.id
gerbangfakta.id
infodinamika.id
narsis.id
pansos.id
forensik.id
hardiknas.com
pakcoy.com
http://mostravirtual.aip.pt
ACCSLOT88
accslot88
VIPBET76 VIPBET76 VIPBET76 OLXBET288 OLXBET288 Toto Slot Toto Slot Toto Slot
c.