Sumber : Histori.id
Penting untuk saat ini adanya seorang yang bisa kritis terhadap pemerintah. Mengamati kebijakan pemerintah tidak hanya tugas dari akademisi tapi tugas kita semua untuk peduli terhadap kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah, karena kebijakan tersebut akan sangat berdampak pada kita sendiri, keluarga, dan lingkungan sekitar, maka dari itu kita perlu peka terhadap kebijakan yang dibuat oleh pemerintah dan yang akan tergambar dalam sejarah. Berbicara menggenai sejarah dan politik ada seorang anak bangsa yang kritis terhadap pemerintah dan sejarah di Indonesia yaitu Asvi Warman Adam.
Asvi Warman Adam adalah seorang peneliti senior pusat Riset Politk, Badan Riset dan Inovasi (BRIN). Ia tak hanya seorang peneliti tapi juga seorang penulis buku. Ia banyak menulis buku mengenai sejarah politik Indonesia, khususnya peristawa G30S, orde baru, dan isu sejarah yang kontraversi.
Semangat Asvi Warman Dalam Meneliti Sejarah Indonesia
Bukittinggi, 8 Oktober 1954 kelahiran Pak Asvi, umurnya sudah tidak muda lagi yaitu 70 tahun, tapi beliau masih produktif terutama dalam menulis buku. Pak Asvi merupakan anak dari Adam Sutan Djamaris dan Meimunah. Adam Sutan Djamaris merupakan seorang yang kritis, ia sering mengkritik adat di Minangkabau, kritis terhadap birokrasi pemerintah yang dinilai lebih buruk dari masa kolonial, dan kritis terhadap kesenjangan antara Jawa dan luar Jawa (Historia.id)
“Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya” itulah yang tercermin pada Asvi, bapaknya yang kritis, itulah yang tergambarkan oleh Asvi sekarang. Asvi besar di Sumatera Barat setelah itu ia berkuliah di Universitas Gajah Mada dan melanjutkan studinya di Master École des Hautes Études en Sciences Sociales (EHESS)
Perjuangan pak Asvi tidak semulus yang dibayangkan. Beliau pernah berkata bahwa beliau ini spinter bukan pelari maraton (Histori.id) Pak Asvi menjadi seorang penulis seperti sekarang bukan sebuah mukjizat langsung dari Tuhan, tetapi karena pengalaman beliau yang dulu menjadi seorang wartawan sampai ia bisa menulis opini yang terbit diberbagai surat kabar, sehingga beliau dijuluki dengan “Raja Opini”. (Histori.id)
Kontribusi beliau dalam mengungkap sejarah Indonesia yang tidak diulik dalam pembelajaran sejarah Indonesia bukanlah suatu hal yang mudah. pada saat beliau meneliti tentang “Membedah Peristiwa 1965” pada Mei 2016 isu tersebut merupakan hal sensitif, bahkan pada saat penelitian tersebut sejarawan dan akademisi ada yang di keluarkan. Tapi Pak Asvi tetap melanjutkan penelitiannya dan bahkan ia juga menjadi saksi dalam Internasional People’s Tribunal 1965 di Den Haag, beliau menjelaskan kekejaman yang terjadi pada tahun 1965 pada masa Orde Baru mengenai pelanggaran HAM berat.
Asvi selau bersemangat mengkaji sejarah Indonesia karena beliau ingin meluruskan sejarah yang tidak diungkap oleh Indonesia, hal tesebut akan banyak pertentangan bagi politik, tetapi itu tidak membuat beliau mundur, karena menurutnya sejarah adalah sebagai alat pembebasan kolektif di masa lalu (wikipedia).
Penulis : Khairatul Anisa
