Dokumentasi pribadi oleh Locus
Ruang Teater SBSN pagi itu, dipenuhi jas almamater berjejer seperti pagar. Logo organisasi menempel di dada para mahasiswa layaknya identitas yang sedang dipertaruhkan. Sementara di atas panggung, materi tentang moderasi beragama, etika kepemimpinan hingga komunikasi politik disampaikan dengan begitu tertata, rapi, dan penuh kalimat normatif.
Namun pagi itu, ada satu hal yang terasa janggal. Sebab, di tengah ramainya pembicaraan mengenai materi etika kepemimpinan hingga ke komunikasi politik, isu kekerasan seksual yang sedang menyeret nama UIN Raden Mas Said Surakarta ke ruang publik nasional justru dibicarakan dengan nada yang terdengar sangat hati-hati. Salah satu pemateri menyampaikan bahwa organisasi mahasiswa seharusnya mampu menjadi problem solver dengan membangun prestasi dan tidak memperkeruh keadaan, hingga narasi itu terdengar terlalu tenang.
Saya memahami maksud baik dibalik pernyataan tersebut. Tidak ada mahasiswa yang ingin kampusnya dikenal karena kasus pelecehan seksual. Semua tentu ingin nama baik institusi tetap utuh, tetap bersih, tetap tampak baik-baik saja.
Tetapi justru di situlah kegelisahan saya muncul. Mengapa setiap kali kampus menghadapi krisis moral, yang paling dulu diselamatkan justru citranya? Padahal, nama baik kampus tidak pernah lebih penting daripada rasa aman mahasiswanya sendiri.
Saya duduk di forum itu sebagai delegasi ormawa. Mendengar bagaimana isu pelecehan seksual verbal perlahan bergeser menjadi pembicaraan tentang prestasi, stabilitas, dan kekhawatiran terhadap citra institusi. Seolah-olah luka mahasiswa bisa disamarkan oleh sertifikat, pencapaian, dan unggahan prestasi di media sosial.
Padahal trauma tidak pernah selesai hanya karena kampus berhasil membuat prestasi besar. Ada ironi yang terasa begitu dekat di ruang itu. Forum yang seharusnya membicarakan keberanian moral justru dipenuhi kehati-hatian untuk terlalu jauh mengkritik institusinya sendiri. Kepemimpinan mahasiswa akhirnya terdengar seperti pelatihan menjadi humas kampus: menjaga suasana tetap aman, menjaga nama baik tetap tenang, dan memastikan kegaduhan tidak tumbuh terlalu besar.
Sementara di luar forum, keresahan mahasiswa berjalan sendirian. Yang lebih menyedihkan lagi, narasi “jangan memperkeruh keadaan” sering kali terdengar sangat berbeda di telinga korban. Kalimat itu mungkin dimaksudkan sebagai ajakan menjaga kondusivitas. Namun, bagi sebagian mahasiswa, ia terdengar seperti permintaan agar luka dibicarakan pelan-pelan saja. Jangan terlalu keras! Jangan terlalu ramai! Jangan sampai membuat institusi terlihat buruk!
Padahal, kampus bukan hanya menghadapi krisis pencitraan. Tetapi, kampus juga sedang menghadapi krisis kepercayaan. Saya sebagai mahasiswa mulai mempertanyakan, apakah ruang akademik benar-benar aman bagi kami para mahasiswa? Apakah organisasi mahasiswa benar-benar menjadi representasi suara mahasiswa? Atau jangan-jangan, sebagian organisasi hanya sibuk menjadi pagar sosial yang melindungi kenyamanan institusi dari kritik mahasiswanya sendiri?
Di titik ini, saya merasa ormawa sedang berada di persimpangan yang serius.
Apakah mereka masih ingin menjadi ruang perjuangan mahasiswa? Ataukah perlahan berubah menjadi perpanjangan tangan institusi yang terlalu takut pada kegaduhan?
Sebab, sejarah ormawa tidak pernah dibangun oleh mereka yang memilih diam. Gerakan mahasiswa hidup dari keberanian bersuara terhadap sesuatu yang keliru, termasuk keberanian mengkritik meski membuat banyak pihak merasa tidak nyaman.
Menurut saya, ormawa tidak cukup hanya bicara tentang prestasi. Prestasi memang penting. Tetapi rasa aman mahasiswa jauh lebih mendasar dan penting daripada tumpukan penghargaan dan dokumentasi seremoni.
Kampus bisa mempercantik gedungnya dari luar, memperbanyak seremoni, dan memamerkan prestasi ke mana saja. Tetapi selama mahasiswa masih takut menyampaikan keresahan karena khawatir terhadap akademiknya, maka kampus sedang kehilangan rohnya sendiri. Sebab, institusi yang lebih sibuk menjaga reputasi daripada mendengar suara mahasiswanya, pada akhirnya hanya akan melahirkan kepatuhan, bukan keberanian berpikir.
Dan mungkin, yang paling menyakitkan dari semua ini bukan hanya isu itu sendiri, melainkan bagaimana di dalam kampus perlahan belajar untuk lebih takut pada rusaknya citra institusi dibanding rusaknya rasa aman mahasiswanya sendiri. Padahal, kampus seharusnya menjadi tempat paling lantang membela kebenaran, bukan tempat di mana kritik dibungkam atas nama ketenangan.
Jika ormawa hanya berani berbicara saat keadaan aman dan nyaman, lalu apa bedanya mereka dengan pagar institusi yang sekadar menjaga agar kegaduhan tidak keluar terlalu jauh? Pada akhirnya, kampus tidak akan runtuh karena mahasiswanya bersuara. Kampus justru runtuh ketika keberanian untuk peduli mulai hilang dari orang-orang yang mengaku paling memahami perjuangan mahasiswa.
Penulis: Sabil
Editor: Chandra



