Indonesia Darurat Moralitas: Masyarakat Salah Gunakan Informasi Berita sebagai Referensi Tindak Kejahatan

  • By locus
  • September 29, 2023
  • 0
  • 126 Views

Sumber ilustrasi :

Pada kehidupan ini, setiap manusia diberi anugerah dari tuhan berupa perasaan. Salah satunya yaitu perasaan emosional. Rasa ini merupakan suatu perasaan yang timbul ketika manusia mengekspresikan dirinya, seperti marah, senang, sedih. Emosional mempunyai kata dasar berupa ‘’emosi’’. Emosi dapat menimbulkan kebaikan maupun kejahatan. setiap manusia mempunyai daya kontrolnya masing-masing. Maka dari itu, ketika manusia sedang berada di fase ‘’marah’’, alangkah baiknya tidak banyak melakukan sesuatu. Manusia bisa melakukan apa saja yang akan merugikan dirinya dan orang lain. Untuk menghindari terjadinya hal seperti itu, maka diperlukan pengontrolan diri ketika marah agar tidak memicu konflik.

Di indonesia sekarang ini, sedang banyak maraknya kasus pidana pembunuhan, banyak masyarakat yang tidak bisa mengontrol pikiran dan emosionalnya. Konflik ini semakin meningkat pada setiap bulannya, hal ini biasanya disebabkan karena tekanan dari lingkungan, rasa iri, dan rasa dendam. sudah ada undang-undang yang mengatur tentang kasus ini, tetapi maraknya kasus pembunuhan ini semakin merajalela.  Pembunuhan merupakan tindakan yang sangat tidak manusiawi karena mengakibatkan sampai menghilangkan nyawa orang, dan melakukannya dengan perasaan tega (tidak mempunyai rasa kemanusiaan). Apalagi kasus pembunuhan menjadi salah satu masalah sosial yang dikatakan serius karena memengaruhi keamanan di lingkungan masyarakat. Polisi Republik Indonesia telah mendata ada lebih dari 3.000 orang tewas dibunuh dalam empat tahun terakhir ini.

Di era digital ini, kasus pembunuhan menyebar secepat kilat melalui media sosial, seperti Instagram, youtube, dan Tiktok. Tujuan disiarkannya berita mengenai kasus pidana pembunuhan ini tidak lain untuk menjadikan peringatan bagi masyarakat agar dapat mencegah tindak kejahatan seperti itu. Akan tetapi, fakta menjelaskan bahwa berita itu membuat masyarakat seakan-akan menjadi referensi peluapan emosi, dan wajar untuk ditiru. Orang-orang yang berhasil melakukan pembunuhan biasanya menyembunyikan identitasnya dengan banyak cara, contohnya seperti kasus pembunuhan dosen kampus UIN Surakarta satu bulan yang lalu, pada kejadian itu, pelaku berusaha menyembunyikan identitasnya dengan cara membakar pakaian korban.

Setiap warga negara mempunyai hak perlindungan dan berhak atas rasa aman dan bebas dari segala bentuk kejahatan. Menghilangkan nyawa seseorang sangat bertentangan dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. meningkatnya kasus pembunuhan ini, mayoritas dipengaruhi oleh faktor-faktor di lingkungan terdekat. Jika dilihat dari kasus-kasus, pelaku pembunuhan baik itu berasal dari keluarga maupun kerabat terdekat. Hal ini, dapat dikatakan bahwa banyaknya masyarakat yang belum bisa mengontrol emosinya dan kurangnya kesadaran atas perbuatan yang akan dilakukan.

Pepatah mengatakan bangsa yang besar adalah bangsa yang memiliki karakter moral. Setelah menilik pemaparan di atas, bisa dikatakan negara Indonesia saat ini minim moral. Moral bisa dikatakan sikap dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan masyarakat. Perilaku yang bisa diterima dalam kehidupan bermasyarakat. Salah satu yang dapat menunjukan minimnya moral Indonesia ialah kasus pembunuhan.

Kerap dijumpai pelaku pembunuhan mengatakan motif aksi pembunuhan yang telah dilakukan karena rasa iri dan sakit hati, Bahkan dari beberapa pelaku pembunuhan ketika dimintai keterangan dari kepolisian juga menuturkan tidak ada rasa penyesalan setelah membunuh. Seperti kasus pembunuhan mayat dicor oleh pelaku Muhammad Husein di Semarang.

Apapun alasannya, pada dasarnya membunuh bukanlah alasan seseorang untuk membalas dendam sebab dapat menghilangkan nyawa seseorang. Tentu saja pelaku pembunuhan mengetahui tindakan yang dilakukannya adalah salah, namun pelaku tetap saja melakukannya. Kesesatan itulah yang sudah terjadi karena kesadaran terlambat.

Masyarakat Indonesia meyakini dan mempercayai keberadaan Tuhan Yang Maha Esa. Hubungan kurang dekatnya manusia dengan Tuhan dapat menyebabkan  hati nurani manusia menjadi gelap dan dingin sehingga jiwa manusia tidak bisa mempertahankan diri dengan apa yang akan dilakukan. Setelah maraknya kasus pembunuhan, apabila warga Indonesia lebih mendekatkan diri kepada sang pencipta maka akan lebih berhati-hati lagi dalam berperilaku. Memikirkan terlebih dahulu konsekuensi atas tindakan yang akan dilakukan. Diharapkan angka kasus pembunuhan di Indonesia segera menurun dan lenyap.

Menilik pemaparan di atas dapat ditarik kesimpulan evaluasi untuk masyarakat Indonesia harus senantiasa mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Jika tidak maka konsekuensi terburuknya setiap warga memiliki kebebasan bertindak tanpa batas sehingga bisa berbuat semaunya sendiri seperti melancarkan aksi tragis dan kejam seperti pembunuhan. Sebagai manusia selayaknya memeperlakukan sesama manusia dengan saling menghormati, menghargai, mengasihi dan interaksi lainnya dengan postif baik ucapan maupun perbuatan sehingga tercapailah sila ke-2 dari Pancasila yakni Kemanusiaan yang adil dan beradab.

DAFTAR PUSTAKA

Maharani, S. D. (2016). Manusia Sebagai Homo Economicus: Refleksi Atas Kasus-kasus Kejahatan Di Indonesia. Jurnal Filsafat, 26(1), 30-52.

Haliza, S. N., Hasan, Z., Yazhalina, S. R., & Yasa, M. (2023). Peran Penyidik Dalam Mengungkapkan Kasus Pembunuhan Dan Pelaku Yang Menghilangkan Barang Bukti. JURNAL HUKUM, POLITIK DAN ILMU SOSIAL, 2(2), 114-124.

Anisyah, N., Marwah, S., & Maharani, R. (2023). PENDIDIKAN KARAKTER DI TENGAH–TENGAH MARAKNYA KRISIS MORALITAS DI ERA MILLENIAL. Mikraf: Jurnal Pendidikan, 4(1), 48-55.

 

 

Penulis : Nuri dan Luthfi

Editor : Aqil

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.