BEM Solo Raya Gelar Aksi, Soroti Pelemahan Rupiah Hingga Transparansi TPS Putri Cempo

  • By locus
  • Juni 13, 2026
  • 0
  • 125 Views

Dokumentasi pribadi oleh Locus

Surakarta, 12 Juni 2026 – Aliansi mahasiswa yang tergabung dalam BEM Solo Raya menggelar aksi damai di depan kantor DPRD Surakarta, aksi tersebut dilakukan untuk menuntut pemerintah agar segera mengatasi masalah mengenai melemahnya rupiah, naiknya harga barang-barang pokok, kebijakan pemerintah yang mencekik, dan menekan agar pemerintah segera mengevaluasi kebijakan Makan Bergizi Gratis (MBG) maupun Koperasi Merah Putih yang digaung-gaungkan oleh Prabowo.

Ketua BEM FKIP UNS, Ikhsan, mengatakan bahwa terdapat dua isu utama yang menjadi fokus masa aksi yakni persoalan perekonomian dan RUU Polri. “Disini untuk isu yang paling disorot ada dua secara garis besar, terkait Perekonomian dan juga RUU Polri. Dan di mana yang akar, itu ada ke Kurs, BBM yang naik, Koperasi desa, dan juga MBG,” ujarnya.

Dalam aksi tersebut, massa menyampaikan enam tuntutan nasional, diantaranya:

  1. Stabilisasi nilai tukar rupiah dan perlindungan terhadap daya beli masyarakat.
  2. Penolakan kebijakan yang berpotensi membebani rakyat akibat kenaikan harga BBM.
  3. Penolakan pengesahan UU Polri yang telah berpotensi mengancam prinsip demokrasi dan supremasi sipil.
  4. Evaluasi program MBG.
  5. Evaluasi program Koperasi Merah Putih.
  6. Percepat pengesahan UU perampasan aset.

Adapun dua tuntutan isu regional:

  1. Memanggil pihak terkait dalam pengelolaan TPS Putri Cempo untuk dilakukan evaluasi secara terbuka.
  2. Melakukan pembahasan mengenai kebijakan PBB pada sekolah-sekolah swasta yang ada di Surakarta.

Aksi yang semula berlangsung kondusif sempat diwarnai insiden penangkapan 2 orang mahasiswa UMS yang berinisial S dan N oleh pihak aparat tanpa adanya surat penangkapan dan kejelasan tentang permasalahannya.

Setelah kejadian itu, salah seorang mahasiswa yang menjadi koordinator aksi melakukan negosiasi dengan pihak aparat. “Demo yang kita lakukan ini kondusif pak tidak ada aksi anarkis, tetapi mengapa ada teman kami yang bapak amankan,” ujar seorang mahasiswa sebagai koordinator aksi.

Negosiasi antara aparat dan perwakilan rakyat berlangsung cukup alot hingga akhirnya kedua mahasiswa yang diamankan dibebaskan dan kembali bergabung ke massa aksi. Salah satu mahasiswa yang ditangkap kemudian menceritakan kronologi kejadian.

“Kami mau pasang poster yang berisi 6 substansi dari aksi, tapi karena terlalu ramai kami tahan dulu untuk enggak langsung nempel. Terus dari belakang tiba-tiba ada seorang aparat ngerangkul kami berdua dan menanyakan identitas kami. Setelah melihat poster dan lem yang kami bawa, kami langsung dibawa dan dituduh mau provokasi. untungnya teman kami tahu dan langsung melakukan negosiasi dengan aparat sehingga kita dapat langsung dibebaskan sebelum dibawa ke polres,” ujar S, salah satu korban.

Aksi berakhir secara kondusif setelah Ketua DPRD Kota Surakarta menandatangani berita acara bersama perwakilan koordinator aksi. Namun, mahasiswa menegaskan bahwa gerakan akan terus dilanjutkan jika tuntutan tidak dipenuhi.

 

Reporter: Ferdy, Jevon, Naura

Penulis: Jevon, Naura

Editor Hasbi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.