
Dokumentasi pribadi oleh Locus
Surakarta(18/06/2026) — Malam Abjadiah kembali menggelar pertunjukan sastra, dengan mengusung tema “Akankah Berakhir Begitu Saja Perjuanganmu?” pada Kamis(18/6). Pertunjukan yang berlangsung pukul 19.30-21.30 WIB tersebut menampilkan berbagai monolog dan puisi yang dibawakan oleh para penggiat sastra.
Pelaksana kegiatan, Oksa, menjelaskan bahwa ide dari tema yang diangkat berawal dari keprihatinannya terhadap peserta lomba atau festival yang karyanya berhenti begitu saja pada tahap dokumentasi. Menurutnya, penampil yang telah meraih prestasi atau belum lolos harus memiliki wadah agar karyanya bisa terus ditampilkan.
“Sayang kalau pementasan cuman di take video lalu selesai. Nah, sebab itu aku menggandeng beberapa teman-teman untuk membuat sebuah pertunjukan sastra,” ujar Oksa.
Oksa menjelaskan bahwa Malam Abjadiah berawal dari tugas magangnya di Rumah Banjarsari pada tahun 2024. Meski sempat vakum selama 2 tahun, Malam Abjadiah kembali diselenggarakan dengan sejumlah persiapan yang matang.
Meski demikian, Oksa mengaku bahwa acara ini tidak lepas dari tantangan. Salah satunya yaitu meyakinkan rekan-rekan untuk terlibat dalam acara ini. Karena kegiatan ini tidak memiliki keuntungan secara materil, melainkan relasi. Selain itu, ia juga merasa kesulitan untuk mencari penampil karena relasi yang dimilikinya masih dalam skala kecil.
Berbeda dengan persiapan sebelumnya yang menggunakan sistem open call, kali ini Oksa langsung mengajak para penampil untuk berpartisipasi langsung. Selain itu, ia juga membuka kesempatan bagi siapa saja untuk tampil di panggung Malam Abjadiah.
“Aku harap ini panggung terbuka untuk semua kalangan. Khususnya untuk pelajar dan mahasiswa, serta umum juga. Tapi dua point utama memang aku khususkan karena untuk ekosistem berkesenian sejak usia muda,” harapnya.
Pada pementasan tersebut, tampil monolog berjudul “Sang Penjaga” yang dibawakan oleh Fitriana dari Teater 9 Surakarta. Fitrana menjelaskan bahwa monolog yang disutradarai oleh Yogi Swara Manitis ini terinspirasi dari bapaknya yaitu Sayuga yang berprofesi sebagai penjaga museum Radya Pustaka.
“Kebetulan sutradara yang membuat naskah ini dekat dengan bapak saya, Pak Sayuga. Untuk membuat naskah dengan kehidupan relate bapak sebagai sang penjaga museum,” ujar Fitrana.
Pada Monolog “Sang Penjaga” ini menceritakan mengenai kehidupan seseorang yang setiap harinya berada di museum dan menjaga arca maupun barang-barang peninggalan sejarah.
Selain itu, terdapat penampilan monolog yang berjudul “Tolong” dari Lailin karya N. Riantiarno, “Doa Perawan Tua” oleh Bitha karya Siwi Agustin. Sementara itu, pembacaan puisi ditampilkan oleh Faiq dari kartawan Boyolali, Lintang dari sanggar rakyat klaten dan Nurul Atiqoh dari Pemalang.
Pementasan ini ditutup dengan tepuk tangan meriah dari para penonton yang hadir. Salah satu penonton, Muh. Kamarudin Nurrohim yang akrab dipanggil Nur, menilai bahwa pementasan ini sangatlah memukau dan menjadikan salah satu event yang harus dikembangkan karena menjadi wadah untuk para penggiat seni.
“Salah satu event yang harus dikembangkan, karena memang tujuannya untuk memberi wadah kepada teman-teman yang ikut lomba tapi tidak juara, ataupun ikut lomba sudah juara satu dan ingin terus berproses kembali, itu sangat diapresiasi sekali,” ujarnya.
Penulis: Mei, Arin
Reporter: Arin, Mei
Editor: Chandra



