Dokumentasi oleh Locus
Surakarta (28/10/2026) — Lebih dari 500 orang dari berbagai elemen masyarakat mengikuti aksi demonstrasi yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Sebelas Maret (UNS) bersama BEM se-Solo Raya di Surakarta, Rabu (28/10/2026).
Aksi yang berlangsung mulai pukul 14.30 WIB tersebut membawa tujuh tuntutan kepada pemerintah, mulai dari penetapan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebagai bencana nasional hingga jaminan keamanan ruang sipil dari kekerasan aparat.
Aksi yang berlangsung di kawasan perempatan Gatot Subroto (Gatsu) hingga Gladak itu dilatarbelakangi kekecewaan massa terhadap dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran yang dinilai belum mampu menjawab berbagai persoalan masyarakat.
Dalam aksi tersebut, massa menyampaikan tujuh tuntutan kepada pemerintah, yaitu:
- Menetapkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebagai bencana nasional.
- Mendesak pemerintah segera menerbitkan peraturan presiden (perpres) atau peraturan daerah (perda) tentang standardisasi upah minimum guru honorer yang setara dengan Upah Minimum Provinsi (UMP) atau Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK).
- Mengevaluasi anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), serta mengalokasikannya sesuai dengan urgensi dan kebutuhan masyarakat.
- Menstabilkan nilai tukar rupiah.
- Mengaudit Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) dan Percepatan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem (P3KE) secara transparan, serta memulihkan data masyarakat yang keliru dalam penetapan desil.
- Menghentikan konflik agraria dan eksploitasi alam yang mengabaikan hak kelola rakyat.
- Menjamin ruang sipil yang aman dari kekerasan aparat.
Momentum peringatan Hari Sumpah Pemuda menjadi ruang bagi mahasiswa dan masyarakat untuk menyuarakan keresahan terhadap kebijakan pemerintahan Prabowo-Gibran. Massa menilai berbagai persoalan yang mereka soroti membutuhkan perhatian dan penyelesaian dari pemerintah.
Kailani Rizky, Presiden BEM UNS sekaligus koordinator lapangan aksi, mengaitkan demonstrasi tersebut dengan semangat perjuangan yang diperingati setiap 28 Oktober. Ia menyampaikan bahwa keresahan atas kebakaran hutan dan lahan menjadi salah satu pemantik gerakan yang disuarakan di berbagai daerah.
“Kalau mungkin Karhutla ini membakar api di berbagai titik, maka hari ini tanggal 28 ini gerakan hadir di seluruh daerah membakar api semangat perjuangan untuk membuat suatu gerakan perjuangan, api perjuangan yang barangkali ini bisa membuat pengap pemerintah Indonesia,” ungkap Kailani.
Pemilihan kawasan yang disebut sebagai puncak aksi juga memiliki makna simbolis bagi para demonstran. Menurut Kailani, lokasi tersebut merepresentasikan keresahan yang tidak hanya dirasakan mahasiswa, tetapi juga masyarakat Surakarta secara luas.
“Tugu Slamet Riyadi ini adalah satu ikon Surakarta, maka ketika pada hari ini masyarakat berkumpul, menyuarakan keresahannya, artinya bukan sekadar mahasiswa yang menyuarakan keresahan, tapi satu Surakarta resah atas kebijakan-kebijakan rezim Prabowo-Gibran hari ini,” ujar Kailani.
Selain mahasiswa, aksi tersebut turut diwarnai orasi dari seorang jurnalis lepas. Dalam orasinya, ia menyoroti ketidakadilan yang dinilainya masih terjadi, termasuk kerusakan lingkungan yang berdampak terhadap hutan dan satwa. Ia juga menegaskan bahwa keresahan atas berbagai persoalan tersebut tidak hanya dirasakan mahasiswa, tetapi juga para pekerja.
“Rekan-rekan saya, para pekerja lainnya, yang mungkin hari ini masih bekerja, bukan berarti tidak peduli. Kami semua juga gelisah, kami semua ikut mendukung kalian, para mahasiswa ini,” ungkapnya dalam orasi.
Melalui aksi tersebut, massa berharap masyarakat semakin memahami berbagai persoalan kebijakan yang mereka suarakan. Mereka juga mendorong tumbuhnya kepedulian publik terhadap isu-isu yang dinilai berdampak pada kehidupan masyarakat.
Dava, yang disebut sebagai koordinator utama aksi, menegaskan bahwa gerakan tersebut tidak hanya berorientasi pada penyampaian tuntutan kepada pemerintah, tetapi juga pada upaya membangun kesadaran masyarakat.
“Hari ini kita melakukan gerakan tidak hanya sekedar bagaimana kita bisa melakukan tuntutan, tapi kita, esensi utamanya adalah bagaimana masyarakat juga tahu bahwasannya kondisi-kondisi hari ini di negara kita ini memang tidak sedang tidak baik-baik saja,” ujar Dava.
Sementara itu, Kapolresta Surakarta AKBP Condro Sasongko menyatakan bahwa kepolisian menghormati hak mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi di muka umum selama aksi berlangsung tertib. Ia juga mengimbau massa untuk menghindari pembakaran ban demi menjaga kenyamanan bersama.
“Selama kondusif, tidak ada masalah. Kita melayani di sini, aman,” tutur Condro saat dimintai keterangan di lokasi aksi.

Dokumentasi oleh Locus
Aksi berakhir pada pukul 18.00 WIB dalam situasi yang dilaporkan kondusif. Menjelang akhir aksi, massa serentak mengangkat tiga jari sebagai simbol kekecewaan terhadap pemerintah.
Reporter: Meisya, Jevon, Sabil, Alfi, Hasbi
Penulis: Meisya, Jevon, Sabil, Alfi
Editor: Virgi



