Aksi Kamisan di Jalan Slamet Riyadi, Tuntaskan Kasus Menwa UNS

  • By locus
  • April 2, 2022
  • 0
  • 177 Views
Foto: LPM Locus

Kamis (31/03) komunitas Kamisan Solo menggelar seruan aksi Tuntaskan Kasus Menwa yang dihadiri oleh kalangan mahasiswa se-Solo Raya. Pernyataan sikap tolak senioritas dalam ruang organisasi yang kian memarak di jagad perkuliahan. Hingga  alm. Gilang menjadi korban kecundangan para senior preman.

Adanya kekerasan fisik dalam Pelatihan Resimen Mahasiswa Universitas Sebelas Maret, yang sampai mengakibatkan tewasnya Gilang, kasus sama juga pernah terjadi pada tahun 2013. Akan tetapi, tidak sampai naik ke ranah hukum, selesaikan secara kekeluargaan. Hal ini diceritakan oleh Novaria Putri mantan anggota Menwa UNS dalam akun Twitter nya.

“Dimana demokrasi dalam kampus itu, jika di dalam kampus saja pintu berpendapat tidak dibuka lebar, yang kita lihat orang seperti Gilang terus berganti orang seperti Nayla terus berdatangan. Dan terus saja orang-orang seperti itu (resimen mahasiswa) membekuk teman-teman mahasiswa yang mencoba melancarkan kritik,” ucap Iss selaku orator kamisan.

Melalui laman Persma FKIP UNS, tersangka tuntutan kasus penganiayaan pelatihan  Menwa menjalani sidang pembelaan Selasa (29/3). Penasihat hukum menyatakan keberatan atas dugaan penuntut umum karena fakta mengenai waktu,tempat, dan perbuatan yang dilakukan terdakwa tidak diuraikan dengan jelas dengan bukti tidak sepenuhnya menunjukkan perbuatan pidana. Sehingga Penuntut umum tidak mampu membuktikan bahwa perbuatan terdakwa memenuhi unsur Pasal 351 KUHP dan pasal 55 ayat (1) KUHP. Akhirnya, hakim menutup sidang setelah pembacaan tuntutan. Selanjutnya sidang akan dilangsungkan kembali pada Senin (04/4/22).

Saat penyampaian pidato, orator juga mengatakan bahwa pihaknya ada tim yang kini tengah mendampingi advokasi kasus kekerasan pada Gilang hingga keadilan dapat ditegakkan.

Kata senioritas menjadi penyulut amarah mahasiswa yang mengikuti orasi sekitar pukul 17.00 WIB, di bundaran patung Slamet Riyadi Solo tersebut. Menurut mereka, senioritas hanya budaya kotor dan tidak berguna karena mengharuskan junior tunduk dan patuh terhadap seniornya. “Nggak peduli senior itu goblok atau berbuat semena-mena, yang penting kamu harus ikut apa kata senior,” tambah seorang aktivis Kamisan.

Menurut Zoik, diantara orator Kamisan, dirinya mengatakan dengan adanya tema-teman Persma dapat membantu penyebaran informasi. Serta pemantik keberanian korban kekerasan senioritas kampus untuk speak up agar tidak ada lagi kasus yang sama.

Penulis : Devi

Editor    : Alfida

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.