Festival Putri Cempo Angkat Suara Warga Soal Akses Pemulung

  • By locus
  • Mei 2, 2026
  • 0
  • 6 Views

Foto pribadi milik LPM Locus

Surakarta, 1 Mei 2026 – Kegiatan Festival Putri Cempo yang dilaksanakan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo pada Jumat, pukul 17.30 WIB. Rangkaian ini diisi dengan talkshow yang membahas tentang pembatasan akses pemulung dan program pengelolaan sampah dari pemerintah. Acara ini diikuti oleh warga, mahasiswa, dan aktivis dengan tujuan untuk menyampaikan aspirasi masyarakat yang terdampak kebijakan tersebut.

Acara festival diawali dengan penampilan monolog dari Ratih, mahasiswa ISI Surakarta, yang bertajuk “Satu Suara Satu Tubuh Membawa Cerita”. Dalam penampilannya, ia menyuarakan keresahan warga dengan kutipan, “apakah pembangunan harus mengorbankan kalangan yang paling bawah.”

Dalam sesi mimbar bebas, pembahasan masuk ke isu utama yaitu pembatasan akses pemulung di TPA. Syifa dari mahasiswa UNS mengatakan, “negara seharusnya bertanggung jawab dalam menjamin hak hidup masyarakat.”

Sejumlah warga juga turut menyampaikan pandangan mereka. Nur, Ningrum dan Suparno mengatakan hal yang sama bahwa acara ini sudah mewakili suara mereka dan merasa lega. Sedangkan, Sarina mempunyai pandangan atas harapan untuk masih bisa hidup dan memberi makan anak cucu mereka.

Selain itu, dibahas juga isu yang mencuat program pilah sampah dari hulu sampai hilir Pemerintah Kota Surakarta. Warga mempertanyakan bagaimana dengan dampak program tersebut atas keberlangsungan hidup mereka.

Kholis dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) menyoroti proyek strategis nasional terbaru Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSA). Ia menilai adanya ketimpangan manfaat dari proyek tersebut, karena warga tidak mendapat listrik atau subsidi.

Menanggapi hal ini, Suparno menyampaikan pemerintah harus lebih tegas dalam menanggapi isu tersebut, termasuk penanggulangan terlebih dahulu dan bisa memberikan informasi lebih awal kepada warga.

Kholis juga menegaskan bahwa warga memiliki hak untuk menyuarakan pendapat atau aspirasi sebagai Hak Asasi Manusia (HAM) dan negara juga wajib menjaga dan melindungi serta memenuhi hak setiap warga.

Acara ini ditutup dengan penampilan seni wayang dari mahasiswa ISI yang turut menyampaikan pesan dari isu yang diangkat selama kegiatan.

Reporter : Alfida, Sabil

Penulis : Sabil

Editor : Chandra

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.