ABU-ABU TEKNOLOGI DALAM PERUBAHAN GLOBAL: KEBUTUHAN YANG BERESIKO

  • By locus
  • Desember 11, 2023
  • 0
  • 104 Views
Futuristic smart city with 5G global network technology/ freepic.com

Abu-Abu Teknologi Dalam Perubahaan Global

Penulis merasa bahwa pertanyaan “apakah perubahan teknologi akan membawa harapan yang lebih baik di masyarakat?cukup sulit untuk dijawab dengan tegas. Terdapat persilangan antara kekhawatiran akibat adanya dampak negatif yang ditimbul oleh perubahan teknologi. Namun disisi lain, penulis juga merasa bahwa perubahan teknologi telah membantu manusia dalam memenuhi kebutuhannya. Kebutuhan manusia tersebut perlu dipenuhi untuk menjamin keberlangsungan kehidupan meskipun menimbulkan dampak negatif atau risiko.

Penulis merasakan sebuah keraguan akan adanya harapan yang lebih baik atas hadirnya perubahan teknologi. Hal tersebut berawal dari pandangan bahwa perubahan teknologi yang hadir tidak hanya membawa dampak positif pada masyarakat, ternyata juga memiliki sisi-sisi negatifnya. Dalam level individu misalnya, perkembangan teknologi berupa media sosial telah membentuk individu menjadi lebih konsumtif, invidualistik, hingga berkurangnya kepekaan terhadap lingkungan sosial. Dalam level komunitas, disintegrasi sosial menjadi topik yang sering diperbincangkan ketika berdiskusi mengenai dampak negatif media sosial. Hal tersebut dapat dilihat dari kegiatan-kegiatan sosial yang mulai berkurang, terutama di daerah perkotaan yang mengalami proses perubahan lebih cepat. Konteks yang lebih detail, seperti perubahan tersebut telah memberikan ancaman-ancaman baru yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya, seperti pencurian data pribadi, kejahatan digital, phising, pornografi, hingga judi online.

Pada sisi yang lain, penulis juga merasakan bahwa perubahan teknologi juga membawakan dampak yang baik. Salah satunya yaitu memberikan kemudahan kepada masyarakat, seperti arus informasi juga akan lebih mudah diperoleh karena perkembangan tekonologi melalui perkembangan media masa. Kemudian ketika perkembangan teknologi yang mempermudah pekerjaan manusia, seperti berkembangnya media online meeting yang banyak digunakan untuk belajar maupun bekerja pada masa pandemi karena dinilai lebih efektin dan efisien. Kedua contoh di atas membentuk pandangan masyarakat bahwa perubahan teknologi telah menjadi sebuah kebutuhan tersendiri bagi masyarakat, seperti kebutuhan akan kemudahan maupun akses informasi.

Penjelasan singkat mengenai keadaan paradok di atas membuat penulis tidak dapat menentukan positioning secara tegas apakah ada di posisi mendukung atau tidak, ada di area hitam atau putih. Oleh karena itu penulis memiliih untuk ada di area abu-abu karena ada keraguan diantara kedua pilihan tersebut. Keraguan tersebut berdasarkan pada konsep masyarakat risiko yang melihat bahwa perilaku masyarakat saat ini telah menciptakan risiko-risiko baru yang akan mengancam masyarakat itu sendiri.

Kebutuhan Masyarakat dan Masyarakat Risiko

Kebutuhan masyarakat dan masyarakat risiko disini dapat dilihat sebagai hubungan yang paradoksial. Kebutuhan masyarakat tentu perlu dipenuhi untuk menjami keberlangsungan kehidupan manusia, terutama kebutuhan akan kemudahan berkat adanya teknologi. Namun dibalik proses pemenuhan kebutuhan tersebut ternyata secara langsung maupun tidak langsung telah menimbulkan risiko tersendiri bagi masyarakat.

Kondisi yang paradok di atas disebut sebagai masyarakat risiko (risk society) oleh sosiolog Jerman, Ulrich Beck dalam bukunya yang berjudul Risk Society: Towards a new modernity (1986)Masyarakat risiko diartikan sebagai keadaan ketika perilaku sehari-hari masyarakat berada di dalam ketidakpastian serta penuh dengan risiko (Kusvianti, Ashari, & Izzah, 2023). Risiko disini merupakan konsekuensi dari aktivitas manusia, salah satunya risiko atas usaha untuk memenuhi kebutuhan masyarakat itu sendiri.

Salah satu contohnya yaitu ketika masyarakat membutuhkan teknologi transportasi dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu contohnya yaitu ketika masyarakat membutuhkan teknologi transportasi dalam kehidupan sehari-hari. Hampir seluruh manusia saat ini menggunakan teknologi transportasi untuk mendukung mobilitas, baik untuk bekerja, berkuliah, ataupun mobilitas lainnya. Dalam mendukung mobilitas tersebut masyarakat menggunakan kendaraan dengan bahan bakar minyak bumi. Contohnya yaitu motor, mobil, truk, hingga bus yang menggunakan bensin, kereta menggunakan solar, bahkan pesawat juga menggunakan bahan bakar dari minyak bumi dalam bentuk avtur. Kebutuhan akan mobilitas ini tentu perlu dipenuhi demi keberlangsungan kehidupan masyarakat, namun disisi lain pemenuhan kebutuhan tersebut juga menimbulkan sebuah risiko baru yang ditimbulkan akibat pembakaran minyak bumi berupa emisi karbon. Dalam konteks masyarakat risiko, perkembangan teknologi transportasi yang membantu mobilitas masyarakat ternyata telah menimbulkan dampak risiko dan ketidakpastian. Asap yang ditimbulkan oleh kendaraan berbasis minyak bumi dipercaya menjadi salah satu penyebab pemanasan global yang terjadi saat ini.

Contoh kedua yaitu perkembangan berbagai alat elektronik yang menggunakan baterai. Perkembangan perangkat teknologi seperti handphone, laptop, motor listrik, mobil listrik atau alat elektronik lainnya saat ini banyak yang menggunakan baterai. Penggunaan baterai dianggap cukup efisien untuk menyimpan daya listrik, bahkan dipandang lebih ramah lingkungan. Namun, penggunaan baterai secara besar-besaran itu juga perlu kita kritisi. Baterai tersebut dibuat dari nikel, sedangkan nikel diambil melalui mekanisme pertambangan. Telah menjadi rahasia umum bahwa pertambangan merupakan salah satu penyebab rusaknya lingkungan. Selain itu, tidak sedikit perusahaan tambang yang mempunyai konflik horizontal dengan masyarakat. Jika dilihat menggunakan kacamata masyarakat risiko, aktivitas kita yang berkaitan dengan baterai secara tidak sadar telah melanggengkan perusakan lingkungan melalui mekanisme pertambangan.

Kedua contoh di atas menunjukkan bahwa kehadiran teknologi dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat modern ternyata telah menciptakan risiko baru bagi masyarakat itu sendiri. Tanpa sadar ketika kita menggunakan kendaraan untuk mobilitas, kita telah ambil bagian dalam mempercepat pemanasan global. Tanpa kita sadari, ketika kita merasa sangat terbantu dengan kehadiran handhone, laptop, motor dan mobil listrik, ternyata telah membawa risiko berupa perusakan lingkungan. Kebutuhan memang perlu dipenuhi, namun tidak sepantasnya jika menggunakannya sebagai justifikasi untuk melakukan tidak memperhatikan risiko yang mungkin akan muncul. Oleh karena itu, risiko perlu dikendalikan sehingga tidak menimbulkan kerugian bagi generasi selanjutnya.

Perilaku Sustainable: Apakah Sebuah Solusi?

Merujuk dari dua contoh di atas, mengenai pemenuhan kebutuhan dan kemungkinan
risiko telah mendorong masyarakat luas untuk lebih peduli terhadap lingkungan. Salah satu konsep yang sedang dikampanyekan saat ini yaitu tentang perilaku sustainabile. Perilaku sustainable yaitu tindakan yang lebih mengedepankan aspek keberlanjutan lingkungan dalam ativitasnya sehingga tidak mengorbankan masyakarat dimasa yang akan datang (Rasborg, 2012). Salah satu yang diusahakan pemerintah saat ini yaitu menganti motor berbahan bakar minyak bumi dengan teknologi yang lebih maju, yaitu motor listrik yang dinilai lebih ramah lingkungan dengan nol emisi karbon. Namun hal tersebut kemudian menimbulkan perdebatan dikalangan akademisi maupun praktisi atas efektivitas program tersebut. Listrik di Indonesia saat ini juga berasal dari batu bara yang pada prosesnya menimbulkan banyak emisi karbon. Pertanyaan yang kemudian muncul selanjutnya yaitu, apakah perilaku sustainable dapat benar-benar menjadi solusi atas risiko yang ada? Atau hanya akan menimbulkan risiko baru dalam bentuk yang lain?

References

Esgin, A. (2013). Sociological Orientation of the Era of Manufactured Uncertainties: Discussions of “Risk Society” Rooted in Ulrich Beck And Anthony Giddens. Gaziantep University Journal of Social Sciences, 683-696.

Kusvianti, P., Ashari, A., & Izzah, A. (2023). Pandangan Ulrich Beck Tentang Risiko dan Ketidakpastian yang Dialami Oleh Masyarakat Modern. Jurnal Ilmiah Ecosystem, 146-163.

Rasborg, K. (2012). ‘(World) risk society’ or ‘new rationalities of risk’? A critical discussion of Ulrich Beck’s theory of reflexive modernity. Thesis Eleven, 3-25.

Saputra, H., & Hidayah, A. (2023). Aktualisasi Distribusi Risiko dan Kelas Sosial Ulrich Beck: Studi Kasus Kabut Asap di Riau. Jurnal Karya Ilmiah Multidisiplin, 133-142.

 

Penulis : Khoirul Rahman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.