Intelektualisme dan Masalah Kehidupan Masyarakat

  • By locus
  • Maret 10, 2022
  • 0
  • 230 Views
Sumber: https://pin.it/4X2seRl

Alangkah baiknya, jika saya mengawali tulisan saya atas pembacaan buku “Belajar Bertanya” karya Paulo Freire dan Antonio Foundez ini, dengan menuliskan kutipan sajak milik WS Rendra dalam puisinya yang berjudul “Sajak Seonggok Jagung”.

“Aku bertanya:

Apakah gunanya pendidikan bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing di tengah kenyataan persoalannya?

Apakah gunanya pendidikan bila hanya mendorong seseorang menjadi layang-layang di ibukota kikuk pulang ke daerahnya?

Apakah gunanya seseorang belajar filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran, atau apa saja, bila pada akhirnya ketika ia pulang ke daerahnya, lalu berkata:

“Di sini aku merasa asing dan sepi!””

(WS. Rendra, 1975)

Pertama-tama saya akan jelaskan koherensi relevansi arah maksudnya. Dalam buku “Belajar Bertanya” yang isinya dinarasikan dengan model percakapan (dialog) antara Paulo Freire dan Antonio Foundez. Pada dasarnya, memiliki muatan maksud mendobrak sistem ‘elitisisme’ kaum intelektual yang betapa menjemukannya bagi mereka-mereka yang tertindas. Sekumpulan kaum terpilih dan sudah seharusnya punya tanggungjawab bagi kehidupan sosial masyarakat dengan segala kelengkapan tools intelektualitasnya, nyatanya tidak benar-benar mengaktualisasikan perannya secara emansipatoris bagi kehidupan masyarakatnya. Kebanyakan mereka (kaum intelektualis) justru hanya sibuk duduk-duduk di atas kursi empuk dan malah mabuk dengan gagasan-gagasan yang nyangkut di atas menara gading.

Kalau sudah demikian, mereka hanya akan menjadi satu gerombolan manusia yang tiba-tiba menjadi asing di tengah kenyataan masyarakatnya sendiri—yang sebenarnya amat membutuhkan kehadiran dan rangkulan tangan mereka. Sungguh, pemandangan yang nganggur.

Kehebatan mereka dalam hal-hal yang begitu meninggi, teori-teori besar yang begitu ndakik, sekaligus obrolan-obrolan yang begitu berbusa-busa seakan malah membikin jarak (gap) yang memisahkan eksistensi mereka atas kehidupan masyarakat. Alih-alih bersifat simpatik, kebanyakan mereka justru terlihat apatis.

Akan tetapi, di sini saya tidak akan membahas kritik Freire dan Antonio tentang segala macam idealnya peran negara, tentang masalah-masalah kolonialisme dengan segala jenis warna-warni tendensiusnya, termasuk tentang kritiknya soal politik kaum borjuis. Sebab, saya kira, tiga hal yang baru saja saya sebutkan itu setidaknya sudah banyak dibahas dan diketahui oleh sebagian besar masyarakat yang melek literasi. Kalaupun, toh, tetap masih ada masyarakat yang kabur bahkan buta dengan segala macam wawasan dan pengetahuan terkait tiga hal itu. Saya kira, yang utamanya lebih mereka butuhkan adalah soal bagaimana perhatian kita (katakanlah: sebagai kaum terpelajar, intelektualis) terhadap nasib masa depan kehidupan mereka. Bukan soal konsep-konsep teortitas yang sukar diurai pikiran awam.

Sehingga pada arah ejawantah pemikiran dan gagasannya, Friere dan Antonio, menginginkan suatu peran praktis-strategis dari para intelektualis yang bukan sekadar mendalami teori keilmuan dan kefilsafatan belaka, tetapi juga merefleksikannya untuk masa depan sebuah kehidupan masyarakat yang lebih baik dan mensejahterakan. Maka, dalam upayanya berjuang tatkala berada di Brasil ataupun Chile, telaahnya terhadap gagasan besar dari Marx, Sartre, Camus maupun filsuf-filsuf lainnya, Friere dan Antonio tidak hanya berhenti sebatas dalam kotak (box) pemikiran-pemikiran saja, tetapi juga mengkontekstualisasikannya dengan fenomena atau masalah yang terjadi dan dialami oleh masyarakat Brasil ataupun Chile.

Oleh karenanya, yang paling utama untuk dilakukan dalam upayanya, kalau boleh saya istilahkan, adalah suatu pemberdayaan bagi masyarakat (yang dalam tanda kutip) “tertindas”, “termajinalkan”. Karena hanya dengan itulah, satu-satunya cara yang kiranya amat strategis utamanya untuk menciptakan suatu kehidupan masyarakat yang “sejahtera”. Umpamanya, dalam hal pembangunan yang dilakukan oleh negara dengan segenap kinerja kabinet pemerintahannya, sama sekali masyarakat itulah yang seharusnya menjadi faktor sekaligus aktor utama maksud pembangunan tersebut.

So, jangan pernah memimpikan sebuah pembangunan masyarakat, kalau masyarakatnya tidak pernah dilibatkan secara langsung. Bukan dilibatkan sebagai kendaraan politis tentunya. Logikanya, mereka-mereka yang pandailah yang harus menyesuaikan dan memahami mereka-mereka yang awam. Bukan malah sebaliknya. Seandainya, mereka yang punya kemampuan intelektual mumpuni lantas malah menjadi asing di tengah permasalahan masyarakat hanya karena merasa seolah paling mampu sendiri, sehingga harus dipahami masyarakat awam. Itu adalah kesombongan intelektual. Tentu, cita-cita pembangunan hanya akan menjadi ‘omong kosong’ belaka.

Hal ini juga senada dengan apa yang dikehendaki oleh para pemikir Mahzab Frankfut dengan gagasan “Teori Kritis”nya, yang mengkritik keras budaya intelektualitas modern yang ternyata menyimpan alibi kapitalis. Meskipun, tentu akan selalu ada kritik atas kritik, tetapi paling tidak apa yang diinginkan oleh para intelektual Frankfurt adalah cita-cita membebaskan nasib kaum tertindas.

Tentu, kita pada akhirnya, harus benar-benar melihat dan memahami secara jernih lanskap permasalahan kehidupan yang begitu kompleks dan dinamis. Bahwa masalah itu akan selalu ada, dan berubah-ubah. Termasuk konflik dan model ritmis penjajahan-penjajahan itu tak akan pernah benar-benar mati permainannya. Sehingga siapapun saja, khususnya kaum intelektualis, sudah seharusnya mampu untuk bersikap kritis supaya tidak malah terbelenggu oleh keadaan yang tidak semestinya membelenggu.

Mau tidak mau, dalam upaya belajar kita atau dalam usaha kita memahami sesuatu hal, kita tidak lantas sekadar sibuk dengan keilmuan teks saja. Apalagi hanya berhenti dalam wilayah text box. Kita harus selangkah lebih maju. Sebagaimana yang dikatakan dalam buku “Mahzab Pendidikan Kritis” Mengungkap Relasi Pengetahuan Politik dan Kekuasaan, milik Agus Nuryanto, bahwa teks yang diajarkan di dalam kelas haruslah dikaitkan dengan kehidupan nyata. Dengan kata lain, haruslah ada mekanisme dialektik antara teks dan konteks—juga antara teks dan realitas. Tujuannya supaya kita mampu untuk menjawab permasalahan kehidupan yang sedang terjadi.


Paulo Friere, Antonio Foundez, juga Marx, Sartre dan konsep-konsep pemikiran dan pendidikan yang membebaskan pada akhirnya sama sekali bermaksud mencita-citakan kehidupan masyarakat yang sejahtera. Lebih-lebih pemikiran Marx yang sangat menginginkan terciptanya masyarakat tanpa kelas. Dalam arti, suatu masyarakat yang tidak memandang sesamanya secara ‘patriarkis’, ‘feodalis’, maupun ‘primordialis’. Sehingga seluruh masyarakat bisa benar-benar hidup tanpa adanya masalah unggul-mengungguli dan tindas-menindas.

Itu pulalah yang juga diinginkan oleh Islam dengan keilmuan Al-Qur’annya, sekaligus dengan apa yang telah dicontohkan oleh sosok Muhammad bin Abdullah. Islam sejatinya bukanlah semata-mata adalah ajaran langit yang hanya berbicara masalah ketuhanan, hal-hal metafisis, dan masalah-masalah eskatologis belaka. Akan tetapi, Islam juga berbicara tentang masalah-masalah yang menyangkut kehidupan manusia secara sosial. Bahkan, Islam justru sangat berbicara masalah kemanusiaan, ketimbang berbicara tentang masalah ketuhanan.

Ada yang mengatakan, bahwa 96,5% muatan dalam Al-Qur’an sama sekali membicarakan masalah terkait kemanusiaan (muamalah). Sedangkan yang 3,5% sisanya, berbicara tentang masalah ketuhanan (tauhid, ibadah mahdah, dan teologi). Maka dengan demikian, jelaslah bahwa Islam turun bukan hanya sebagai ajaran langit yang ghaib, tetapi lebih kepada jawaban-jawaban atas permasalahan kehidupan, baik yang sudah, yang akan datang dan yang sedang terjadi.

Oleh karena itulah, manusia diharapkan mampu untuk memahami sebuah ayat-ayat (teori-teori) tidak hanya semata-mata berhenti pada teks, tetapi juga harus dapat meluaskan dan mengkontekstualisasikan maksud teks tersebut dengan realita yang sedang terjadi dalam kehidupan.

Toh, apa yang dilakukan oleh Muhammad, sama sekali adalah juga demi umatnya. Sepenuhnya dan sudah menjadi fakta, bahwa urusan atau masalah umat adalah hal utama yang menjadi perhatian beliau. Sosok Muhammad adalah contoh intelektual paling cerdas, pemikir paling hebat, dan pemimpin paling bersahaja yang sama sekali lebih mengedepankan kepentingan umatnya, ketimbang nasib dirinya sendiri. Sudah tak bisa terhitung lagi, jasa pemberdayaan, pembebasan dan kasih sayang beliau untuk umatnya.

Dan itulah yang seharusnya dicontoh oleh para intelektualis di mana pun mereka berada. Bahwa kepandaian dan kehebatan dirinya harus sama sekali ia limpahkan untuk kehidupan seluruh masyarakatnya, terutama mereka-mereka yang tertindas. Bukan malah sibuk dengan libido kekuasaan yang hanya mementingan nasib dirinya sendiri. Friere dan Antiono, dalam dialognya yang terdeskripsikan di buku “Belajar Tanya” juga bermaksud demikian. Yakni, bahwa seorang intelektualis atau siapapun saja yang punya kelebihan dalam segi kapasitas ilmu, ia harus bisa untuk berperan dan mau memperjuangkan nasib masyarakatnya. Menjadi teman setia dan pemberi kenyamanan bagi mereka yang terpuruk hidupnya. Untuk apa punya keistimewaan dan kelebihan, jika itu tidak menjadi manfaat bersama?

Kalau tidak demikian yang dilakukan, saya ulangi lagi sajak Rendra:

Apakah gunanya pendidikan bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing di tengah kenyataan persoalannya?

Apakah gunanya seseorang belajar filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran, atau apa saja, bila pada akhirnya ketika ia pulang ke daerahnya, lalu berkata:

“Di sini aku merasa asing dan sepi!”.

Hidup akan sepi dari kesejahteraan, dan kaum intelektual hanya akan memandang sunyi.

 

Penulis : Ahmad Thohari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.