“si-Ayah”: Lelaki yang Tak Seharusnya Hadir

  • By locus
  • September 11, 2022
  • 0
  • 361 Views
Sumber: http://freepik.com

Bel sekolah berbunyi. Siswa-siswi segera berkemas, membubarkan pikiran dan tubuhnya dari penatnya aktivitas memahami mata pelajaran. Nayaka, salah seorang siswi kelas 2 segera menuju parkiran mengambil sepedanya untuk bergegas pulang. Maklum, ayahnya yang kini sedang sakit membuatnya tak bisa leluasa bermain sebagaimana teman-teman seusianya. Ia harus banyak-banyak di rumah. Menemani ibu untuk merawat ayahnya.

“Nay, ayo habis ini kita main ke rumah Nisa.” ajak Husna sembari menuntun sepeda mininya.

“Mungkin lain kali aja, Na. Aku masih harus membantu ibuku di rumah hari ini.” jawab Nayaka sambil tersenyum kecil. “Aku duluan, ya…”

“Oh, yaudah. Hati-hati, Nay.”

Teman-teman sekolah Nayaka tidak satu pun ada yang tahu tentang kambuhan yang dialami ayahnya. Ia sendiri tak tahu, harus memberitahukan hal itu atau tidak kepada teman-temanya. Teman-temannya hanya tahu, kalau ayah Nayaka sudah sembuh setelah operasi tumor otaknya di tahun lalu. Termasuk guru-guru Nayaka, tidak satu pun ada yang tahu.

Sudah hampir satu tahun pasca operasi tumor otak, ayah Nayaka harus mengalami kambuhan atas sakit yang pernah dideritanya itu. Benjolan di kepala ayah Nayaka yang dulu sudah dioperasi, kini tumbuh lagi. Kata orang, sakit yang disebabkan karena kambuhan, akan jauh lebih sulit untuk diobati. Benar saja, semakin hari keadaan ayah Nayaka justru malah menunjukkan keadaan yang semakin mengkhawatirkan. Meski sudah banyak cara pengobatan yang dijalani oleh ayahnya. Mulai dari medis-kedokteran hingga herbal-tradisional, mulai dari ke dokter hingga orang pintar, tak ada tanda-tanda menggemberikan. Mungkin begitulah kehidupan, memang. Seberapa kuat pun manusia berusaha, ia tetap saja kalah dengan apa yang dinamakan: takdir.

Nayaka terus mengayuh sepedanya. Sebelum tiba di rumahnya, dari jarak 100 meter ia melihat orang-orang di sekitar rumahnya tampak ramai. Tidak seperti biasanya. Kenapa banyak orang berada di rumahnya? Pikirnya. Ia belum paham, pikirannya masih terlalu polos untuk memahami keadaan. Sesampainya di rumah, ia memarkirkan sepedanya di samping rumah. Para tetangga yang berada di sekeliling rumah Nayaka, hanya mampu memberikan tatapan sendu. Tidak ada yang berani menegur Nayaka. Setidaknya untuk sementara ini.

Nayaka segera masuk rumah. Lewat pintu belakang ia mencoba mencari Ibunya. Ia mendapati ibunya sedang menangis sesenggukan di pangkuan neneknya. Nayaka bingung, ia masih belum mengerti. Dialihkan pandangannya ke tempat ayahnya biasa berbaring. Ia tak mendapati ayahnya berbaring di sana. Yang ia dapati adalah bentangan kain jarik yang sedang menutupi sesuatu. Ia mencoba memahami keadaan. Belum selesai ia memahami keadaan, tiba-tiba tubuhnya didekap dan dirangkul oleh dua tangan dengan cukup erat. Sambil terdengar suara isak tangis tersedu-sedu.

“Nak,” suara yang sangat berat itu mencoba menyentuh gendang telinga Nayaka.

“Ada apa ini, Budhe? Kenapa ibu menangis? Ayah dimana?” tanya Nayaka dengan polos.

Tidak ada jawaban dari Budhe. Ia hanya mempererat pelukannya kepada Nayaka sembari menciumi pipinya. Dituntunnya langkah kaki Nayaka untuk menghampiri ibunya yang masih menangis. Nayaka kemudian memeluk ibunya, seraya mencoba memberikan ketenangan. Sang ibu kemudian memeluk tubuh Nayaka begitu erat. Seerat ia menggenggam kesetiaan cintanya kepada sang suami yang baru saja menyampaikan salam perpisahan. Tidak ada satu kata pun terucap. Hanya isak tangis sesenggukan yang terdengar. Tubuh dan perasaan mereka seolah sudah saling memahami.

“Nak, ayahmu sudah mau diberangkatkan. Apakah kamu berkenan melihat wajah ayahmu sebelum ayahmu diberangkatkan?” tanya Bude Lasmi pelan.

Nayaka tidak bisa menjawab. Tubuhnya tiba-tiba menjadi dingin. Ia menatap sendu ke arah tatapan Bude Lasmi.

“Bagaimana, Nak? Kalau kamu berkenan, ayo, Bude hantarkan.”

Nayaka mengangguk kecil. Digandenglah tangan Nayaka oleh Bude Lasmi ke tempat pembaringan sang ayah. Kain jarik yang menutupi wajah sang ayah kemudian dibuka oleh Bude Lasmi. Nayaka yang berdiri di samping tempat ayahnya berbaring kemudian menatap wajah sang ayah sangat dalam. Lama ia memandangi kesejukan wajah yang selama ini sangat ia kagumi dan sayangi. Nayaka seperti tenggelam ke dasar lautan perasaan yang begitu dalam. Meski tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya ada dalam pikiran Nayaka.

“Sudah, Nak?” tanya Bude Lasmi sambil menundukkan tubuhnya.

Nayaka kembali hanya mengangguk kecil. Masih dengan perasaan yang sama. Tatapan terasa sungguh sendu. Dengan perasaan itu pulalah Nayaka menghantarkan kepergian sang ayah ke tempat peristirahatan terakhirnya. Ia tidak bisa ikut ke pemakaman. Ditambah suasana langit yang mendung semakin memperjelas sekaligus mempertegas bagaimana suasana hati Nayaka saat itu. Jatuhnya rintik-rintik air dari langit seolah mewakili air mata Nayaka yang sejak tadi urung untuk keluar dan jatuh.

“Aku akan selalu merindukanmu, Ayah,” batin Nayaka.

Semenjak itu, kehidupannya Nayaka berubah. Ia seakan telah kehilangan separuh semangatnya. Raut mukanya yang kerap kali tampak ceria seolah tertutupi oleh cuaca hati yang seringkali tiba-tiba menjadi mendung. Ibunya pun tak lebih sama. Nayaka yang masih sangat polos tentu masih harus banyak mendapatkan sentuhan-sentuhan kasih sayang orang tua. Tetapi, kini seolah terabaikan. Pun, Bude Lasmi yang sangat menyayangi Nayaka juga harus segera balik mengurus keluarganya. Rumah Bude Lasmi juga cukup jauh, sehingga ia tidak bisa setiap hari menemui Nayaka.

Hari demi hari. Bulan demi bulan. Tahun demi tahun, dilalui Nayaka dengan hanya berbekal separuh semangat dalam hidupnya. Tetapi meski demikian, ia sangat sayang kepada ibunya. Karena hanya sang ibu-lah yang saat ini ia punya. Meskipun waktu sang ibu harus dibaginya untuk bekerja, selain untuk menemaninya. Sibuknya pekerjaan membuat setiap malam ibunya selalu tidur lebih duluan ketimbang Nayaka.

Hingga akhirnya, di waktu Nayaka duduk di bangku kelas 5, ibunya dikenalkan oleh salah satu lelaki kenalan tetangganya. Pria itu duda, sudah cerai 2 tahun yang lalu dengan istrinya. Alamatnya ada di salah satu kecamatan yang cukup jauh jarak tempuhnya dari pusat kota. Awal mula, ibu Nayaka berkenalan dengan lelaki itu melalui perangkat telepon. Semenjak perkenalan itu, setiap malam ibunya selalu sibuk bertelepon dengan lelaki itu. Tak ada jeda yang dirasakan oleh Nayaka, setiap malam ia seakan selalu mendapati ibunya asyik telepon dengan lelaki kenalan barunya. Ingin rasanya Nayaka menegur, tetapi rasa takutnya selalu saja lebih besar sehingga ia urung untuk menegur ibunya. Ia sebenarnya khawatir kalau saja kasih sayang ibunya kepadanya, harus ia bagi lagi untuk dikasihkan kepada lelaki itu. Nayaka tidak mau itu terjadi. Sudah cukup baginya kehilangan kasih sayang sang ayah, dan bahagia dengan kasih sayang ibu yang meski harus ia bagi dengan kesibukannya bekerja. Nayaka tidak mau, hadirnya lelaki itu justru hanya akan merenggut kasih sayang ibunya, jug kebahagiaan dirinya.

Setiap malam ibunya selalu asyik dengan telepon. Sampai saat malam minggu tiba, ibunya tiba-tiba mengajak Nayaka untuk makan mie ayam di warung kesukaan Nayaka. Bagi Nayaka, ini tak seperti biasanya. Tapi ia cukup senang karena setelah sekian lama semenjak kepergian sang ayah, Nayaka tak lagi pernah makan mie ayam kesukaannya lagi. Alasannya karena dua hal. Pertama, karena uang saku yang tak cukup. Kedua, karena ia tidak ingin merepotkan ibunya. Hidup memang begitu membimbangkan, kadang kita harus memilih merelakan diri untuk minum Promag ketimbang ngemis minta makan. Begitulah yang juga dilakukan Nayaka, semenjak kepergian ayahnya, ia mulai belajar bahwa kehidupan tak selamanya akan terus menyenangkan. Ada banyak hal kesakitan yang itu justru harus diterimanya dengan hati lapang.

“Nak,” Ibunya memulai percakapan.

“Iya, Bu?” jawab Nayaka.

“Ibu mau bicara penting.”

“Iya, Bu. Bicara saja, akan Nayaka dengarkan baik-baik,” jawab Nayaka tanpa ada kekhawatiran.

“Ibu ingin menikah lagi, Nak. Kamu tidak keberatan, kan?”

Seperti tersentak oleh suara petir yang mememik bumi, seketika itu berubahlah air mukanya. Ia tidak menjawab: tidak. Tapi juga tidak mengiyakan.

“Nak?”

Nayaka memalingkan mukanya.

“Ini demi kebaikan masa depanmu juga. Kamu tidak keberatan, kan?”

“Aku tidak yakin, Bu.”

“Kenapa? Dia lelaki baik, Nak. Ibu yakin, dia akan bisa menggantikan posisi ayahmu.”

“Tidak, Bu. Tidak ada yang bisa menggantikan posisi ayah. Ayah Naya cuma satu, Bu. Tidak ada yang lain,” sambil menatap tajam mata ibunya. “Bu, bukan maksud Naya untuk egois. Tapi aku tidak yakin, kalau lelaki itu bisa menjadikan baik masa depan kita.”

“Kenapa tidak, Nak?”

Nayaka tidak bisa menjelaskan kegelisahannya dengan kata-kata. Ia hanya bisa diam. Ia bingung, bagaimana caranya menjelaskan perihal firasat buruk di dalam hatinya tentang lelaki yang sering menelepon ibunya itu.

“Baiklah, Nak. Mungkin kamu butuh waktu untuk memikirkan ini. Maaf kalau ibu terlalu mendadak.” Ibu mengangkat tubuhnya, “Ayo, kita pulang, Nak.”

Nayaka berjalan pulang dengan kaki yang urung mengeluarkan tenaga. Jalannya gontai. Senyuman bintang-bintang di langit malam sudah tak menarik lagi bagi jiwa sendunya. Keindahan cahaya-cahaya lampu di sepanjang jalan kini tak lagi berarti apa-apa untuk kegelapan di dalam lubuk hatinya. Bulan purnama yang terlihat begitu indahnya menyapa setiap insan di belahan bumi, diabaikan begitu saja oleh perhatiannya.

Tak ada pembicaraan yang terjadi setelah Nayaka dan ibunya sampai di rumah. Nayaka langsung pergi ke kamarnya. Mengunci pintu dan segera membaringkan tubuhnya. Tak lupa pula ia membaringkan pikiran dan hatinya. Sayangnya, ia tak berhasil pejamkan mata. Pikirannya menggodanya untuk kembali mengingat almarhum sang ayah ketika masih hidup dulu. Nayaka tak kuat. Ia segera mencari foto ayahnya yang disimpannya di dalam buku catatan hariannya. Ia ambil foto itu. Ia pandangi dengan seksama wajah yang sangat teguh dan menenangkan. “Ayah, aku merindukanmu. Aku tak mau kalau ibu menikah lagi. Aku tak yakin lelaki yang disukai ibu itu akan bisa membuat bahagia ibu dan aku,” ucap Nayaka lirih sembari membayangkan seolah ayahnya ada di hadapannya.


Akhirnya Nayaka menyerah. Ia merelakan ibunya menikah lagi, meski dirasa sangat berat. Akan tetapi, demi kebahagiaan ibunya, Nayaka rela hidup bersama dengan lelaki yang sebenarnya menurutnya tidak layak untuk menjadi pengganti ayahnya. Di waktu bulan-bulan ia akan naik kelas enam, ibunya resmi menikah lagi.

Masih tak ada yang perlu untuk dikhawatirkan. Hingga menginjak enam bulan usia pernikahan itu berjalan. Tak pernah dibayangkan sebelumnya oleh Nayaka, ayah barunya mengajak pindah ke tempat asal si ayah. Padahal, janji pernikahannya dulu, entah bagaimanapun keadaannya keluarganya akan terus tinggal dan merawat rumah peninggalan almarhum sang ayah. Tetapi, janji selalu saja hanya hidup sebatas sebagai janji. Tak lebih. Seperti kata-kata yang tak memiliki buhul, janji itu melayang-layang, kemudian menghilang. Kenapa seseorang harus pula menepati janji, jika ada kenyataan lain yang lebih mengasyikkan? Demikianlah hidup, manusia tidak pernah benar-benar tahu akhir dari skenario yang ditulisnya sendiri. Kadang kala akhir kesimpulan dari setiap cerita yang coba dibuatnya hanyalah: omong kosong.

Ibunya kemudian menyerah, dan mau untuk pindah. Rumah peninggalan mendiang sang ayah pun dijual. Si ayah baru sudah memiliki rumah yang lebih layak. Berat bagi Nayaka untuk menerima kenyataan ini. Seperti berat bagi Nayaka untuk ikut pindah bersama ibu dan si ayah barunya. Tapi, Nayaka urung pindah. Karena di tempatnya singgah sekarang ini, mendiang sang ayah seakan selalu hadir menemaninya. Nayaka tak mau pindah. Sayangnya, ia tidak mungkin berani menolaknya.

“Ibu dan ayah silahkan pindah duluan. Naya ingin menyelesaikan sekolah Naya terlebih dahulu di sini. Naya akan ikut nenek untuk sementara waktu. Nanti setelah lulus Naya akan menyusul ibu. Naya kira nenek juga tidak akan keberatan. Toh, nenek juga di rumah sendirian,” Nayaka mencoba membujuk ibu dan ayah barunya.

“Baiklah, Nak, kalau memang itu maumu. Nanti ibu dan ayah akan sering menjengukmu ke sini. Iya kan, Mas?” ucap Ibu sambil memalingkan wajahnya ke suaminya.

Suaminya hanya tersenyum.


Waktu terus menerus berjalan. Air hujan yang selalu turun setiap harinya menandakan bahwa musim telah berganti. Akan tetapi, ibu dan ayah barunya ternyata tak kunjung melaksanakan perkataannya. Bahkan, hingga sampai di penghujung hari kelulusan Nayaka, ibu dan ayah barunya tidak pernah menjenguknya sama sekali. Ibunya selalu beralasan sibuk dengan pekerjaannya, sehingga ibu dan si ayah baru tidak ada kesempatan untuk menjenguk Nayaka. Alih-alih merasakan kasih sayang. Nayaka merasa, waktu ibu dan si ayah barunya selalu habis dilimpahkan justru tidak untuknya.

Hari demi hari dilewatinya dengan suasana yang sangat sepi. Satu-satunya teman yang setia menemaninya hanyalah bayang-bayang almarhum sang ayah tercinta. Kepada neneknya, tentu saja ia tidak cukup merasakan kasih sayang. Justru Nayaka yang harus memberikan kasih sayangnya kepada sang nenek.

Tibalah sampai di hari kelulusannya, Nayaka tempo hari meminta dengan sangat kepada ibunya untuk datang ke sekolahan guna ikut hadir merayakan acara perpisahan di sekolahnya. Sang Ibu akhirnya datang. Meski terlihat sedikit kecewa, tetapi Nayaka tetap senang. Usai acara selesai, ibunya mengajaknya lagi ke warung mie ayam kesukaannya. Suasana canggung menghinggapi hati sang ibu.

“Nak, maafkan ibu, ya. Ibu selama ini tidak bisa sering menjengukmu ke sini. Bahkan, setelah perpindahan ibu kemarin, baru satu kali ini ibu menjengukmu,” sang Ibu mencoba memecah keheningan.

“Iya, Bu. Tak apa,” jawab Nayaka singkat dengan senyum tipis.

“Oh iya, Nak. Dulu kamu pernah ditawari sekolah gratis oleh gurumu, kan? Menurut ibu, tawaran itu kamu ambil saja, Nak. Untuk melanjutkan sekolahmu.”

Nayaka sebenarnya mengerti arah perkataan yang dimaksudkan oleh ibunya. Tetapi ia memberanikan diri bertanya. “Kenapa tidak melanjutkan sekolahnya di tempat ibu saja? Kan ada ayah yang akan membiayai sekolah Naya.”

Ibunya hanya terdiam. Ada yang aneh dari sikap sang ibu. Seolah tak sampai hati untuk bercerita apa yang sebenarnya terjadi semenjak ia pindah rumah mengikuti suaminya.

“Tidak, Nak. Menurut ibu, sekolah-sekolah di sana tidak ada yang bagus.” Ibu Nayaka berbohong.

“Tidak apa, Bu. Tidak harus sekolah bagus, kok. Asalkan Nayaka bisa hidup bersama ibu.”

Ibunya tiba-tiba meneteskan air mata. Ia begitu terharu mendengarkan perkataan polos dan tulus dari Nayaka.

“Ibu kenapa? Kenapa ibu menangis?” Nayaka heran.

Akhirnya panjang lebar sang Ibu menceritakan apa yang sebenarnya dialaminya selama ini dengan suami barunya. Bekas luka di bagian pelipis keningnya, dan luka lebam di lengan kirinya.

“Seharusnya ibu menuruti kata-katamu, Nak. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Ibu tidak mungkin bisa berpisah dengannya,” ucap sang Ibu dengan raut menyesal.

“Kenapa, Bu? Bukankah ibu berhak untuk meninggalkannya.”

Sang ibu hanya menggeleng. “Lebih baik kamu melanjutkan sekolahmu di tempat seperti yang ditawarkan oleh gurumu, Nak. Itu akan lebih baik untuk masa depanmu. Kamu ikuti saran ibu, ya?”

Nayaka akhirnya menuruti permintaan sang ibu untuk melanjutkan sekolahnya sebagaimana tawaran dari gurunya. Meski dengan harus tinggal di yayasan. Hidup jauh orang tua. Tentu bagi Nayaka pilihan demikian sangatlah berat. Ia belum terbiasa hidup mandiri. Usianya yang baru menginjak 12 tahun, belum siap untuk menghadapi suasana kehidupan baru yang menurutnya: menakutkan. Tetapi terkadang manusia tidak bisa benar-benar memilih, tentang sesuatu hal yang mestinya ia pilih. Seperti halnya seorang manusia yang tidak bisa memilih lahir di tempat yang ditinggalinya saat ini.

Dua tahun berjalan, Nayaka tampak sudah berhasil beradaptasi dengan lingkungan barunya. Kini ia sudah duduk di bangku kelas 2 SMP. Tahun depan ia akan naik kelas 3. Tidak pada yang perlu dikhawatirkan. Tetapi masuk di tahun ketiganya di yayasan tempatnya tinggal, hal yang tak terduga terjadi. Nayaka tiba-tiba jatuh sakit, seminggu ia mengalami demam tinggi. Ia harus dirawat inap. Gejala tipes melanda dirinya hingga sebulan penuh tubuhnya terasa lemas. Pasca demam itu, aura tubuh Nayaka berbeda. Bahkan kondisi jiwanya juga tidak sebagaimana biasanya. Nayaka terlihat sering murung, dan sering melamun. Di malam hari, Nayaka juga sering mengigau. Entah apa yang sedang terjadi pada Nayaka.

“Sepertinya Nayaka sangat tertekan batinnya. Memang secara lahiriah ia terlihat cukup ceria. Akan tetapi, siapa tahu kondisi batinnya?” kata pengasuh yayasan kepada ibu Nayaka. “Mungkin Naya perlu pendampingan Ibu. Saya mengizinkan apabila ibu berkenan merawat Naya di rumah, sampai ia sembuh. Ada kemungkinan kalau Naya selama ini selalu menekan terus-menerus kerinduannya akan kasih sayang Ibu. Karena ia belum cukup kuat, pecahlah jiwanya, hingga kondisinya seperti sekarang ini.”

Nayaka kemudian dibawa pulang oleh ibunya. Hampir satu bulan berjalan, Nayaka masih belum memperlihatkan tanda-tanda kesembuhan. Khawatir akan kondisi Nayaka yang tak kunjung sembuh, diajaklah ia berobat ke orang pintar oleh ibunya. Seperti juga saran suaminya. Dan, ternyata ada yang mengganggu jiwa Nayaka. Ada sosok anak kecil yang ikut dengannya. Kata orang pintar yang dimintai tolong ibunya, kemungkinan penyebab apa yang dialami Nayaka selama ini adalah karena ia sering sekali melamun di tempat-tempat sepi. Ditambah lagi karena memang dasarnya ia memiliki jiwa yang sangat polos dan penyayang, sosok anak kecil itu kemudian suka dan ikut bersama Nayaka.

Diceritakanlah semua perkataan orang pintar itu kepada sang suami. Kata suami, anak kecil yang ikut Nayaka itu harus segera dipisahkan dari badan Nayaka supaya ia bisa hidup normal kembali. Sang suami yang juga sedikit mengerti tentang permasalahan gaib semacam itu, akhirnya mencoba untuk menyembuhkan anaknya. Tak disangka, Nayaka mulai menunjukkan aura positifnya kembali, meskipun belum seratus persen.

Nayaka yang sudah sedikit bisa mengendalikan kesadarannya akhirnya menyadari kalau ternyata si ayah barunya tidak punya pekerjaan apa-apa layaknya lelaki yang sudah berumah tangga. Selama di rumah, Nayaka mendapati si ayah kerjaannya hanya tidur, bermalas-malasan. Justru, ibunyalah yang setiap hari harus banting tulang. Menjadi buruh tani. Seringkali ibunya juga harus berangkat di tengah malam untuk bekerja glidik, menanam padi. Terlihat aneh memang, tetapi sudah menjadi kebiasaan masyarakat desa setempat menanam padi mulai dilakukan di tengah malam sampai pagi hari. Belum lagi, siangnya ibunya harus mencarikan rumput kambing ternaknya. Sedangkan suaminya hanya tidur. Nayaka tak kuasa melihat kenyataan ini. Hatinya mendidih. Nayaka tidak tahu alasan apa yang membuat ayah barunya tidak bekerja. Padahal, ia terus merokok setiap harinya. Bagaimana ia bisa beli rokok, sedangkan ia saja tidak bekerja? Uang dari mana kalau bukan dari ibu. Tetapi Nayaka hanya menyimpan ketidak-mengertiannya itu di dalam hatinya. Ia masih sangat takut.

Firasat Nayaka benar-benar terjadi. Ketika ibunya bekerja di sawah. Saat dimana Nayaka sedang tidur di kamarnya, ia didatangi oleh ayah barunya itu. Nayaka merasakan ada sepasang tangan yang memegangnya, meraba-raba tubuhnya. Nayaka kaget ketika ia sedikit membuka matanya, ternyata tangan itu adalah tangan milik ayah barunya. Ingin ia berteriak, tetapi ia masih cukup takut.

Tubuh Nayaka menjadi sangat kaku, begitu pun lidahnya. Tangan bejat itu tak henti-hentinya bergerak. Nayaka menahan air matanya sambil memohon pertolongan di dalam hatinya. Ia tak berani berteriak. Dan, tiba-tiba bibirnya yang ranum itu dikecup oleh bibir lelaki berusia 40-an, ayah tirinya sendiri. Tidak mau kejadian itu terjadi terlalu jauh, Nayaka langsung membalikkan badannya. Seolah tersentak, lelaki bejat itu langsung pergi keluar kamar. Nayaka kemudian menangis, jiwanya sangat-sangat hancur. Hampir saja. Tetapi tetap saja itu sudah kelewatan. Ia tak layak menjadi seorang ayah. “Ibu, ibu cepat pulang, Bu. Naya tidak ingin tinggal di rumah ini lagi.” ucap Nayaka lirih. []

Bersambung …

 

Penulis: Ahmad Thohari

Editor: Alfida

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.